UNIKAMA "NGOMPRES Medsos!": Cara Mahasiswa Unikama Lawan Arus Digital dari Kafe Bersejarah
Malang, Kamis sore (10/4/2026) — Inovasi pembelajaran kembali ditunjukkan mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) melalui kuliahan Pendidikan Kewarganegaraan yang digelar secara “out of the box” di sebuah kafe Gedong Ijen. Tak sekadar tempat bersantai, kafe ini menyimpan nilai historis berupa bunker peninggalan tahun 1930an yang menjadi saksi perjalanan masa lalu.
Kegiatan diawali dengan pengalaman tak biasa: mahasiswa diajak menyusuri lorong bunker yang dipandu oleh Mohamad Harris Ishaq, Founder Gedong Ijen. Penelusuran ini menjadi pintu masuk reflektif, menghubungkan kesadaran sejarah dengan tanggung jawab generasi muda dalam konteks kekinian.
Memasuki sesi utama, dosen pengampu, Engelbertus Kukuh Widijatmoko, mengusung tema “Kontribusi Mahasiswa di Era Digital: NGOMPRES Medsos”. Konsep “NGOMPRES” dimaknai sebagai upaya menyaring, mengolah, dan memanfaatkan media sosial secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Dalam paparannya, Engelbertus menegaskan bahwa mahasiswa hari ini tidak cukup hanya hadir di ruang digital, tetapi harus memberi makna.
“Media sosial bukan sekadar tempat berbagi, tetapi ruang perjuangan gagasan. Mahasiswa harus mampu ‘mengompres’ informasi—memilah yang bernilai, meredam yang menyesatkan, dan menyebarkan yang mencerahkan,” ujarnya.
Perspektif akademik tersebut diperkaya oleh kehadiran praktisi dari Muzike Indonesia. Anggara, selaku leader tim, memberikan pendalaman praktis terkait strategi pemanfaatan media digital untuk meningkatkan kapasitas warganegara. Ia menyoroti pentingnya membangun identitas digital yang kuat dan berdampak.
“Di era ini, jejak digital adalah identitas. Mahasiswa harus menjadi kreator yang sadar nilai, bukan sekadar pengguna yang larut arus,” tegas Anggara.
Selain materi utama, mahasiswa juga mendapatkan penguatan motivasi dari Dr. Siti Muntomimah, Kaprodi PGPAUD Unikama yang dikenal sebagai penulis produktif dengan lebih dari sepuluh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ia mengajak mahasiswa untuk berani berkarya dan memanfaatkan ruang digital sebagai ladang kontribusi.
“Jangan hanya menjadi penonton di era digital. Jadilah pencipta yang menghadirkan makna dan solusi,” pesannya penuh semangat.
Suasana kafe yang hangat dan historis berpadu dengan diskusi berupa tanya jawab yang hidup menciptakan pengalaman belajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif. Mahasiswa tampak antusias berdialog, berbagi pengalaman, hingga merefleksikan peran mereka sebagai warga negara di era digital.
Perkuliahan ditutup dengan sesi foto bersama, menjadi simbol kebersamaan sekaligus penanda lahirnya semangat baru dalam memaknai kewarganegaraan. Melalui pendekatan ini, Unikama menegaskan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berada dalam ruang formal, melainkan dapat tumbuh di ruang-ruang kreatif yang menghidupkan kesadaran, nalar kritis, dan tanggung jawab sosial mahasiswa di tengah arus digitalisasi.






