Bencana Lisan di Ruang Akademik: Refleksi Psikologis
يَمُوْتُ الفَتَى مِنْ عَثْرَةٍ مِنْ لِّسَـــــانِهِ ۞ وَلَيسَ يَمُوتُ الْمَرْءِ مِنْ عَثْرَةِ الرِّجْلِ
MATINE WONG ANOM SEBAB KEPLESET LISANE # ORA KOK MATINE SEBAB KEPLESET SIKILE
(Seorang pemuda akan mati karena terpeleset lisannya, tidaklah akan mati seseorang karena terpeleset kakinya).
فَعَثْرَتُهُ مِنْ فِيْــــهِ تَرْمِىْ بِرَأْسِـهِ ۞ وَعَثْرَتُهُ بِالرِّجْلِ تَبْرَى عَلَى الْمَهْلِ
DENE MLESETE LISAN NEKAKKE BALANG ENDAS # DENE MLESETE SIKIL SUWE SUWE BISO WARAS
(Karena terpelesetnya mulut bisa melenyapkan kepalanya, sementara terpelesetnya kaki lama-lama akan sembuh).
Written by [Syahrul Mubarok]—Sarjana Psikologi UIN
Bait dari Kitab Alala (yang menyadur *Ta'lim al-Muta'allim) di atas adalah teguran keras nan puitis yang melintasi zaman. Luka karena terpeleset kaki mungkin bisa sembuh dengan beberapa olesan obat dalam hitungan hari. Namun, "terpelesetnya lisan" dapat menghancurkan martabat, mencoreng nama baik almamater, dan meninggalkan trauma psikologis yang sangat dalam bagi korbannya.
Pesan ulama terdahulu ini terasa begitu menusuk dan relevan jika kita melihat rentetan degradasi moral yang baru-baru ini mencoreng wajah pendidikan tinggi di Indonesia.
Dari Layar Grup Chat UI hingga Alunan Lagu ITB
Sebelum publik dihebohkan oleh insiden di Institut Teknologi Bandung (ITB), kita lebih dulu dikejutkan oleh kasus dugaan pelecehan seksual verbal yang terjadi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Beredar tangkapan layar sebuah grup chat mahasiswa yang secara terang-terangan berisi percakapan tidak etis, merendahkan martabat perempuan, dan mengobjektifikasi rekan sesama mahasiswi mereka.
Belum reda rasa kecewa publik atas tragedi verbal di UI, ruang maya kembali disuguhkan fenomena serupa dari mahasiswa ITB. Sebuah video viral memperlihatkan sekelompok mahasiswa menyanyikan lagu himpunan berjudul "Erika". Di balik riuhnya tawa dan kebersamaan mereka, lagu tersebut memuat lirik vulgar yang secara gamblang menjadikan tubuh perempuan sebagai objek candaan.
Dua kasus dari dua institusi bergengsi ini memunculkan satu pertanyaan besar: "Bagaimana bisa kaum intelektual muda dengan mudahnya merendahkan martabat orang lain melalui lisannya atas nama candaan?"
Anatomi "Candaan" dalam Tinjauan Psikologi Sosial
Dalam kacamata psikologi sosial, apa yang terjadi pada mahasiswa UI dan ITB dapat dijelaskan melalui fenomena Deindividuation (deindividuasi) dan dorongan Konformitas.
Ketika seseorang berada di balik anonimitas grup obrolan tertutup (seperti kasus UI) atau melebur dalam euforia massa dan "tradisi himpunan" (seperti kasus ITB), kesadaran moral pribadi sering kali tumpul. Mereka merasa tanggung jawab atas ucapan tersebut dibagi rata dengan kelompoknya, sehingga rem kendali diri pun blong.
Banyak yang ikut-ikutan tertawa atau mengetik hal tak pantas hanya agar diterima (*sense of belonging*) dan tidak dicap kaku. Masalahnya, pelecehan verbal yang diulang-ulang—meski berbalut "guyonan tongkrongan" atau "tradisi"—akan membentuk *belief system* (sistem kepercayaan) yang menormalisasi kekerasan seksual.
Syariat Menjaga Lisan: Indikator Kedewasaan Mental dan Spiritual
Sebagai sarjana Psikologi dari institusi Islam, saya melihat betapa agama kita telah memberikan intervensi preventif yang sangat presisi terhadap masalah ini. Jauh sebelum ilmu psikologi modern merumuskan dampak traumatis dari *verbal abuse*, Islam sudah meletakkan standar tertinggi mengenai adab berkomunikasi.
Allah SWT secara eksplisit melarang penggunaan lisan yang berpotensi merusak dan memicu permusuhan:
Surah Al-Isra’ (Juz 15, Surah ke-17, Ayat 53)
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia."
Kemampuan mengontrol lisan bukan hanya sebatas etika sosial, melainkan indikator valid dari kualitas kesehatan mental dan kedewasaan spiritual seseorang. Hal ini ditegaskan secara mutlak oleh Rasulullah SAW:
Hadis Riwayat Muslim (No. 47)
**مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ**
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
Kasus UI dan ITB menjadi alarm darurat bagi kita semua. Intelektualitas yang tinggi tidak ada harganya jika tidak dibarengi dengan empati dan adab. Mari kembali merenungi pesan *Kitab Alala*: lisan adalah senjata paling mematikan yang bisa menghancurkan masa depan (kepala) seseorang. Kedewasaan sejati terletak pada keberanian kita untuk memutus rantai tradisi yang salah, menolak konformitas yang merendahkan, dan selalu memilih untuk berbicara dengan adab—atau diam.

