UNIKAMA Gerakkan Kepedulian Lewat Dongeng
Malang - Suasana koridor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang tampak berbeda pada Senin malam, 9 Maret 2026. Karpet hijau digelar memanjang, lampu-lampu kecil berkelip menghiasi backdrop bertuliskan Gema Ramadhan. Anak-anak duduk bersila dengan mata penuh penasaran. Mereka tidak sedang menunggu ceramah panjang. Mereka menunggu cerita.
Di tengah lingkaran kecil itu, Dr. Siti Muntomimah, M.Pd bersama Dr. Dwi Agus Setiawan, M.Pd tampil dengan cara yang tidak biasa. Bukan dengan slide presentasi atau teori pedagogik, melainkan dengan sebuah boneka yang menjadi “tokoh utama” dalam dongeng malam itu.
Boneka itu bukan sekadar alat peraga. Ia menjadi jembatan komunikasi antara nilai dan imajinasi.
“Anak-anak lebih mudah memahami nilai ketika disampaikan melalui cerita,” ujar Dr. Siti Muntomimah di sela kegiatan. Menurutnya, mendongeng bukan sekadar hiburan, melainkan metode pendidikan karakter yang sangat kuat—terutama pada momentum Ramadhan.
Melalui cerita yang sederhana namun penuh pesan, anak-anak diajak memahami makna kepedulian, berbagi, dan kejujuran. Boneka yang digerakkan secara ekspresif membuat cerita terasa hidup. Tawa anak-anak sesekali pecah, tetapi pada bagian tertentu mereka juga terlihat terdiam, menyimak pesan yang diselipkan dalam alur cerita.
Bagi Dr. Dwi Agus Setiawan, pendekatan mendongeng memiliki kekuatan pedagogis yang sering terlupakan di dunia pendidikan modern. “Cerita adalah teknologi pendidikan paling tua dalam sejarah manusia. Dari cerita, nilai diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program Gema Ramadhan yang diinisiasi oleh mahasiswa PGSD. Tema yang diangkat, “Ramadhan Menguatkan Iman, Menggerakkan Kepedulian,” tidak hanya berhenti pada slogan. Ia diterjemahkan dalam praktik pendidikan yang hangat, sederhana, dan membumi.
Yang menarik, kegiatan ini menunjukkan bahwa kampus tidak selalu harus tampil formal dan akademik. Kadang justru melalui dongeng dan boneka, pesan kemanusiaan bisa sampai lebih dalam.
Di tengah derasnya budaya digital yang sering membuat anak tenggelam dalam layar, malam itu mereka kembali pada tradisi lama: duduk bersama, mendengar cerita, dan belajar nilai kehidupan.
Dan, di situlah letak kekuatan pendidikan yang sesungguhnya—ketika ilmu tidak hanya diajarkan, tetapi juga diceritakan.


