2026/03/11

Pedalaman Iman: Ketika Iman Bertemu Era Kecerdasan Buatan

 


Malang - Malam di Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang terasa berbeda pada Rabu, 11 Maret 2026. Di rumah sederhana yang menjadi tempat berkumpul umat Stasi Emmanuel Ngadireso, bagian dari Paroki Maria Diangkat ke Surga Tumpang, umat Katolik duduk melingkar di atas tikar dan karpet hijau. Tidak ada panggung megah, tidak ada layar digital. Hanya Alkitab, gitar, dan hati yang ingin belajar.

Oleh : Ralditya Fito Viant Babo, Pegiat Literasi

BACA JUGA : NGOMPRES POLITIK 


Itulah wajah Pedalaman Iman ke-3 malam itu.

Anak-anak, orang muda, hingga para orang tua hadir bersama. Ada yang membuka kitab suci, ada yang menyimak dengan tenang, bahkan seorang balita yang merangkak di tengah lingkaran seakan menjadi simbol bahwa iman memang hidup—tidak selalu formal, tetapi selalu hangat.

Materi pewartaan disampaikan oleh Pak Agung, yang mengajak umat merenungkan tema “Berjalan Bersama Menjadi Pembawa Berkat di Era Kecerdasan Buatan.” Ia mengingatkan bahwa zaman sedang berubah cepat. Dunia kini mengenal kecerdasan buatan, algoritma, dan mesin yang bisa berpikir. Namun, menurutnya, ada satu hal yang tidak boleh hilang: kecerdasan hati manusia.

“Teknologi bisa membantu manusia berpikir lebih cepat,” ungkapnya dalam refleksi, “tetapi iman mengajarkan kita untuk tetap berjalan bersama, saling menguatkan, dan menjadi berkat bagi sesama.”

Suasana pedalaman iman semakin hidup ketika Ibu Santi memandu lagu-lagu pujian dengan iringan gitar sederhana. Nada-nada doa mengalun pelan di ruangan itu, menyatukan generasi tua dan muda dalam satu harmoni iman.

Tidak ada kesan kaku dalam pertemuan ini. Ada tawa kecil, percakapan ringan, juga momen hening ketika umat merenungkan makna hidup di tengah zaman digital. Pedalaman iman ini menjadi ruang di mana umat kecil di desa belajar membaca tanda-tanda zaman: bagaimana tetap beriman ketika dunia semakin dipenuhi teknologi.

Di tengah kemajuan kecerdasan buatan, umat di Stasi Emmanuel Ngadireso memilih satu sikap sederhana namun mendalam: tetap berjalan bersama.

Sebab pada akhirnya, teknologi boleh semakin pintar, tetapi dunia tetap membutuhkan manusia yang mampu menjadi pembawa berkat.

Postingan Terkait

Cari Blog Ini