“NGOMPRES” Politik Ormawa: Hadirkan Latihan Kepemimpinan yang Interaktif dan Bergembira
Malang - Suasana latihan kepemimpinan dan manajemen mahasiswa kali ini terasa berbeda. Ruangan yang awalnya formal berubah menjadi hidup ketika Engelbertus Kukuh Widijatmoko, yang akrab disapa dosenblankon, mengajak peserta menyanyi bersama sebelum memulai materi bertajuk “NGOMPRES Politik Ormawa: Ngolah Makna Perspektif vs Persepsi dalam Pengendalian Emosi", Achmad Faizul Musyaffa sebagai moderator, Rabu (11/03) di Gedung Sarwakirti Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Bagi dosenblankon, belajar kepemimpinan tidak harus selalu kaku. Ia membuka sesi dengan cara yang tidak biasa: bernyanyi bersama peserta. Suara tawa dan semangat mahasiswa pun mengisi ruangan. Menurutnya, suasana gembira membuat pikiran lebih terbuka untuk menerima gagasan.
“Kalau hati gembira, pikiran lebih siap menerima makna,” ujarnya sambil tersenyum di hadapan peserta.
Materi kemudian disajikan secara interaktif, tidak hanya berupa ceramah satu arah. Mahasiswa diajak berdialog, menanggapi kasus organisasi mahasiswa, serta membedakan perspektif dan persepsi dalam menghadapi konflik internal organisasi. Dosenblankon menekankan bahwa banyak konflik ormawa sebenarnya bukan soal prinsip, tetapi soal persepsi yang belum diolah dengan matang.
Melalui pendekatan NGOMPRES (Ngolah Makna Perspektif vs Persepsi), peserta diajak belajar mengendalikan emosi dalam dinamika organisasi. Bagi dosenblankon, pemimpin mahasiswa harus mampu berpikir jernih, tidak mudah reaktif, dan berani memaknai perbedaan.
Suasana semakin hidup ketika memasuki sesi tanya jawab. Sejumlah mahasiswa antusias mengajukan pertanyaan seputar konflik organisasi, cara menghadapi kritik, hingga bagaimana mengelola emosi dalam kepemimpinan. Diskusi berlangsung cair, penuh humor, tetapi tetap sarat makna.
Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian bertanya dan berdiskusi, dosenblankon memberikan buku kepada beberapa peserta. Ia menegaskan bahwa buku tersebut bukan sekadar hadiah, tetapi simbol bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri.
“Ilmu itu seperti air. Kalau berhenti di satu tempat, ia akan keruh. Ilmu harus dibagikan, dialirkan, dan dipertemukan dengan pikiran orang lain,” ungkapnya.
Melalui sesi yang penuh kegembiraan ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori kepemimpinan, tetapi juga tentang cara mengelola emosi, memahami perbedaan sudut pandang, dan membangun dialog yang sehat dalam organisasi.
Bagi dosenblankon, latihan kepemimpinan bukan sekadar agenda kegiatan mahasiswa. Ia adalah ruang belajar untuk mengasah kedewasaan berpikir.
“Organisasi mahasiswa itu laboratorium kepemimpinan. Di sana kita belajar bukan hanya memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri,” pungkasnya.





