Workshop Menulis vs Blankonisme
Basis Fakta
Fenomena workshop menulis di kalangan mahasiswa sedang subur. Hampir setiap bulan ada kelas menulis, pelatihan konten, atau bootcamp kepenulisan. Pesertanya penuh, sertifikatnya dicetak rapi, unggahannya seragam. Namun ironinya, produksi tulisan yang sungguh dibaca dan dipikirkan publik justru tak sebanding dengan ramainya workshop. Banyak yang belajar menulis, sedikit yang benar-benar menulis dengan tanggung jawab makna.
Lensa Makna
Di titik ini, blankonisme menawarkan lensa berbeda. Menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan laku kesadaran. Blankon menutup kepala agar pikiran tidak liar dan ego tidak tumpah ke mana-mana. Menulis dipandang sebagai kerja batin: menata isi kepala sebelum menata paragraf.
Asumsi yang Digugat
Asumsi umum workshop menulis adalah: semakin cepat, semakin bagus; semakin viral, semakin berhasil. Blankonisme menggugatnya. Tidak semua yang cepat itu matang. Tidak semua yang viral itu bermakna. Menulis bukan lomba lari, tapi perjalanan menunduk—pelan, sadar, dan bertanggung jawab.
Narasi Masalah
Masalahnya, banyak mahasiswa ingin terdengar kritis tanpa mau reflektif. Judul nyaring, isi tipis. Opini keras, argumen rapuh. Workshop sering kali melatih cara berbicara, bukan keberanian untuk berpikir. Akibatnya, tulisan menjadi panggung pamer diksi, bukan ruang dialog gagasan.
Konflik Nilai
Di sinilah konflik muncul: antara menulis untuk tampil dan menulis untuk berpikir. Workshop mengejar hasil instan, blankonisme menuntut proses. Yang satu sibuk mengejar publikasi, yang lain sibuk menata niat. Benturan ini membuat mahasiswa terjebak: produktif tapi dangkal, aktif tapi kehilangan arah.
Olah Batin
Blankonisme mengajak kembali ke olah batin. Sebelum bertanya “tulisan ini laku atau tidak”, pertanyaannya digeser menjadi “tulisan ini jujur atau tidak”. Menulis bukan sekadar soal suara, tapi soal keheningan yang mendahuluinya. Diam bukan kemalasan, melainkan ruang fermentasi gagasan.
Nalar Kritis
Nalar kritis lahir bukan dari template, tapi dari keberanian meragukan diri sendiri. Blankonisme melatih mahasiswa untuk tidak langsung yakin pada pikirannya sendiri. Menulis menjadi latihan menguji argumen, bukan sekadar mengumumkan pendapat.
Etika Publik
Setiap tulisan yang terbit memasuki ruang publik. Blankonisme menekankan etika: kata-kata punya dampak. Tidak semua kegelisahan perlu diumbar, tidak semua kemarahan layak dipublikasikan. Menulis adalah tanggung jawab sosial, bukan sekadar ekspresi personal.
Refleksi
Workshop menulis seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan hanya produksi. Bukan sekadar “bagaimana menulis”, tetapi “mengapa menulis”. Tanpa refleksi, workshop hanya mencetak penulis cepat—bukan penulis berpikir.
Sikap
Akhirnya, blankonisme menawarkan sikap: menunduk sebelum menulis, berpikir sebelum bicara, jujur sebelum tampil. Mungkin inilah workshop paling radikal bagi mahasiswa hari ini—belajar menulis sambil belajar menahan diri. Karena tulisan yang kuat lahir bukan dari ego yang berisik, melainkan dari kepala yang tertib dan batin yang tidak pamer.

