2026/02/02

Peserta Ekskul Jurnalistik SD Katolik Santa Maria II Belajar Membuat Tempe Kacang

  


Peserta Ekstrakurikuler Jurnalistik SD Katolik Santa Maria II Malang mengikuti kegiatan belajar lapangan dengan mengamati langsung proses pembuatan tempe kacang dari produsennya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 2 Februari 2026, pukul 13.30–14.30 WIB, pada jam kegiatan ekstra.

Oleh : AMZ Supardono, Guru Jurnalistik 

Kegiatan belajar ini berlangsung di rumah produksi tempe kacang milik Bapak Mulyono, yang beralamat di Jl. Kelapa Sawit No. 87 Malang. Bapak Mulyono yang akrab disapa Pak Mul dengan ramah menjelaskan kepada para siswa mengenai alat, bahan, serta tahapan pembuatan tempe kacang secara tradisional namun higienis.


Pak Mul menjelaskan bahwa bahan utama tempe kacang adalah bungkil kacang, yaitu ampas kacang tanah yang sudah diambil minyaknya. Bungkil inilah yang kemudian diolah menjadi tempe kacang bernilai gizi tinggi.

Proses pembuatan tempe kacang diawali dengan merendam bungkil kacang selama 18 jam menggunakan air tawar dan air fermentasi sisa hari sebelumnya. Setelah itu, bungkil ditiriskan selama 1 jam hingga benar-benar kering, lalu dikukus selama 1 jam 15 menit. Bungkil yang telah matang kemudian diangkat dan diletakkan di nampan besar untuk didinginkan selama 7 jam.

Selanjutnya, disiapkan air sebanyak 4 gayung untuk ukuran produksi 20 kg tempe kacang, kemudian ditambahkan 3–4 butir ragi tempe kacang yang sebelumnya dilarutkan dengan air tawar. Ragi tempe kacang ini mudah diperoleh di toko-toko. Campuran ragi kemudian diaduk merata dengan bungkil kacang yang telah dingin.

Setelah itu, adonan didiamkan selama 17 jam, lalu diperciki air tawar sebanyak 4 gayung. Lima jam berikutnya, adonan kembali diperciki 3 gayung air tawar. Setelah melalui proses fermentasi selama 21 jam, tempe kacang siap dipanen dan dijual.

Pak Mul mengungkapkan bahwa produksi tempe kacang dilakukan setiap hari dengan rata-rata 20 kg per hari. Tempe kacang tersebut dipasarkan ke Pasar Mergan, dititipkan di warung-warung sayur, serta dijual keliling kampung langsung ke konsumen. Harga tempe kacang dijual Rp1.800 per biji, sedangkan untuk pembeli langsung dijual Rp2.000 per biji.

Kepala SD Katolik Santa Maria II Malang, Sr. Maria Marsiana, SPM., S.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa.

“Melalui kegiatan belajar langsung di lapangan, siswa tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga mengenal proses produksi pangan lokal, menumbuhkan rasa hormat terhadap kerja keras para pelaku usaha kecil, serta melatih rasa ingin tahu dan kepedulian sosial,” tuturnya.

Pembina Ekskul Jurnalistik, Ibu V. Catur Riyanti, S.Pd, yang akrab disapa Bu Yanti, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa.

“Anak-anak belajar menggunakan seluruh inderanya, mengamati, mencatat, bertanya, dan menyusun informasi menjadi sebuah berita. Ini adalah pengalaman belajar jurnalistik yang sangat bermakna,” jelasnya.

Salah satu peserta Ekskul Jurnalistik, Naomi Letticia Haryanto dari kelas 5A, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya senang sekali karena bisa melihat langsung cara membuat tempe kacang. Ternyata prosesnya panjang dan harus sabar. Dari sini saya belajar menghargai makanan dan kerja keras orang lain,” ungkap Naomi dengan antusias.

Melalui kegiatan ini, peserta Ekskul Jurnalistik diharapkan semakin terampil menulis berita sekaligus memiliki wawasan luas tentang kehidupan di sekitar mereka.

Postingan Terkait

Cari Blog Ini