2026/02/26

NGOMPRES POLITIK: Anak Muda Malang Olah Perspektif VS Persepsi

 


Malang – Ruang diskusi di Graha Inspirasi Araya, Kamis (26/2) sore, dipenuhi semangat kalangan muda yang ingin memahami politik secara lebih jernih dan reflektif. Kegiatan bertajuk NGOMPRES POLITIK: Ngolah Makna – Perspektif vs Realita Sosial ini menghadirkan Pak Kukuh Widijatmoko, Founder Dosen Blankon Institute (DBI), sebagai narasumber utama, dengan moderator Anjelina Wulandari Sitina De Sareng, S. Pd, Guru SMPK Santa Maria 2 Malang.

Acara yang terbuka untuk umum dan diikuti mayoritas peserta dari kalangan muda dari berbagai daerah ini menjadi ruang dialog kritis yang berbeda dari diskusi politik pada umumnya. Andri sebagai Direktur Operasional Graha Inspirasi menyambut baik dan menegaskan acara ini Mengusung tagline “Politik itu panas, Ngompres solusinya”, forum ini mengajak peserta tidak terjebak pada kemarahan, persepsi sepihak, atau polarisasi yang kerap muncul di media sosial.

Dalam pengantarnya, Wulan menegaskan pentingnya ruang aman untuk berdialog. “Anak-anak muda hari ini sangat cepat menerima informasi, tetapi belum tentu punya ruang untuk mengolahnya. Forum seperti ini penting agar kita tidak hanya reaktif, tetapi reflektif,” ujarnya membuka diskusi.

Engelbertus Kukuh Widijatmoko dalam pemaparannya menyoroti perbedaan mendasar antara perspektif dan persepsi. Ia menjelaskan bahwa banyak konflik sosial berawal dari persepsi yang tidak pernah diuji dalam dialog. “Di Ngompres, tidak ada persepsi yang salah. Yang ada adalah perspektif yang belum diobrolkan sambil ngopi,” ungkapnya disambut antusias peserta.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mengangkat pertanyaan seputar fenomena echo chamber, polarisasi politik, hingga peran generasi muda dalam menjaga nalar publik. Salah satu peserta menyampaikan kegelisahannya terhadap suasana debat politik di media sosial yang sering kali berujung pada saling serang.

Melalui forum seperti NGOMPRES POLITIK, anak muda Malang diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pemikiran yang bertanggung jawab. Politik tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang menakutkan atau memecah belah, melainkan sebagai ruang belajar bersama untuk merawat realitas sosial secara dewasa.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen sederhana dari peserta untuk mulai membangun budaya diskusi sehat di lingkungan masing-masing. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal membentuk generasi muda yang kritis, terbuka, dan mampu mengolah makna sebelum mengambil sikap.





Postingan Terkait

Cari Blog Ini