2026/02/23

NGOMPRES : Model Pedagogi Kritis dalam Jurnalisme Warganegara

 


Perkembangan demokrasi digital telah memperluas ruang partisipasi publik dalam produksi informasi. Setiap warga kini memiliki kapasitas untuk menjadi produsen berita, membentuk opini, dan memengaruhi persepsi sosial melalui platform digital. Fenomena ini melahirkan praktik jurnalisme warganegara yang memperkuat partisipasi demokratis. Namun, di balik peluang tersebut, muncul persoalan serius: derasnya arus perspektif yang kerap tidak diolah secara kritis, sehingga informasi yang beredar lebih mencerminkan reaksi emosional dibanding pemahaman sosial yang mendalam. Dalam konteks inilah NGOMPRES (Ngolah Makna: Perspektif vs Realitas Sosial) menawarkan model pedagogi kritis yang relevan.

Secara ontologis, NGOMPRES berpijak pada asumsi bahwa realitas sosial bukan entitas tunggal yang sepenuhnya objektif, melainkan hasil konstruksi sosial. Pemikiran Peter L. Berger menegaskan bahwa realitas dibentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi dalam interaksi sosial. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai “fakta sosial” sering kali telah melalui proses pembingkaian tertentu. Perspektif individu tidak berdiri netral; ia dipengaruhi oleh latar sosial, pengalaman, dan struktur kuasa sebagaimana dijelaskan Pierre Bourdieu melalui konsep habitus dan modal simbolik. NGOMPRES membantu mahasiswa menyadari bahwa setiap narasi membawa jejak struktur sosial tertentu.

Secara epistemologis, NGOMPRES mengadopsi pendekatan pedagogi kritis. Paulo Freire menolak model pendidikan yang memposisikan peserta didik sebagai penerima pasif informasi. Ia menekankan dialog dan proses penyadaran (conscientization) agar peserta didik mampu membaca realitas secara kritis. Dalam jurnalisme warganegara, pendekatan ini berarti mahasiswa tidak hanya belajar teknik pelaporan, tetapi juga dilatih menguji asumsi, memverifikasi data, serta memahami konteks sosial suatu peristiwa. Proses dialogis ini sejalan dengan gagasan Jürgen Habermas tentang tindakan komunikatif, di mana diskursus rasional menjadi fondasi ruang publik yang sehat.

Secara aksiologis, NGOMPRES bertujuan membentuk warga yang reflektif dan bertanggung jawab secara etis. Kerangka berpikir kritis sebagaimana dirumuskan Robert Ennis menekankan pentingnya berpikir reflektif dan rasional sebelum memutuskan apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Dalam praktik kelas, mahasiswa didorong untuk menunda reaksi, menganalisis berbagai sumber, serta mempertimbangkan dampak sosial dari narasi yang mereka produksi. Dengan demikian, jurnalisme warganegara tidak berhenti pada ekspresi kebebasan, tetapi berkembang menjadi praktik etis yang sadar struktur.

Implementasi NGOMPRES dalam pembelajaran dilakukan melalui empat tahap: identifikasi perspektif, analisis struktur sosial, dialog reflektif, dan produksi narasi etis. Mahasiswa membandingkan framing berbagai media, mengidentifikasi relasi kuasa di balik isu, mendiskusikan temuan secara argumentatif, lalu menghasilkan karya jurnalistik berbasis kesadaran sosial. Model ini menggeser orientasi dari sekadar viralitas menuju kebermaknaan.

Pada akhirnya, NGOMPRES dapat dirumuskan sebagai model pedagogi kritis reflektif yang mengintegrasikan konstruksi sosial, dialog rasional, dan etika publik dalam praktik jurnalisme warganegara. Di tengah derasnya arus informasi digital, pendekatan ini menjadi penting untuk memastikan bahwa partisipasi warga tidak sekadar memperbanyak suara, tetapi juga memperdalam makna. Demokrasi digital membutuhkan kualitas kesadaran, dan NGOMPRES hadir sebagai upaya sistematis untuk membentuknya.

Postingan Terkait

Cari Blog Ini