NGOMPRES : “Algoritma vs Akal Sehat”
Jurnalisme warganegara hari ini ibarat hutan yang tumbuh liar. Semua orang menanam kata, menyiram opini, dan memanen perhatian. Pohon-pohon konten menjulang cepat, tetapi akarnya sering dangkal. Angin kecil bernama emosi saja cukup untuk merobohkannya. Di tengah rimba informasi itu, NGOMPRES hadir bukan sebagai kapak, melainkan sebagai kompas.
NGOMPRES — Ngolah Makna: Perspektif vs Realitas Sosial — adalah proses menjemur kata-kata yang masih basah oleh prasangka. Ia seperti dapur sunyi tempat fakta direbus perlahan, bukan digoreng panas demi sensasi. Dalam mata kuliah Jurnalisme Warganegara, NGOMPRES mengajarkan bahwa setiap peristiwa adalah bahan mentah. Jika langsung disajikan, ia bisa mentah, getir, bahkan beracun.
Mahasiswa bukan sekadar penangkap gambar realitas. Mereka adalah penenun makna. Perspektif adalah benang; realitas sosial adalah pola besar yang tak selalu terlihat. Tanpa ketelitian, benang bisa kusut. Tanpa kesadaran sosial, kain yang ditenun hanya menjadi selimut ego.
Di era algoritma, jempol lebih cepat dari pikiran. Reaksi lebih laris daripada refleksi. Viral menjadi mata uang, dan klik menjadi candu. NGOMPRES mengajak berhenti sejenak—seperti petani yang memeriksa tanah sebelum menanam. Apa konteksnya? Siapa yang terdampak? Narasi siapa yang hilang?
Jurnalisme warganegara tanpa NGOMPRES adalah gema di ruang kosong: keras, tetapi tak menggugah. Dengan NGOMPRES, ia menjadi lentera di lorong gelap—tidak menyilaukan, tetapi menerangi.
Demokrasi digital bukan panggung teriakan. Ia adalah ruang tanggung jawab. Dan NGOMPRES adalah latihan merawat api kecil bernama akal sehat—agar tetap menyala, meski badai opini datang silih berganti.

