2026/02/07

Jembatani Iman dan Politik: Pemuda Katolik Dorong Partisipasi Publik Bermartabat



Malang - (7/2) Kepemimpinan awam Katolik kembali ditegaskan sebagai kekuatan moral dan strategis dalam merawat demokrasi Indonesia. Hal itu mengemuka dalam forum dialog kebangsaan yang menghadirkan Ketua Umum Pemuda Katolik, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta Guru Besar Ilmu Politik Prof. Ramelan Surbakti. 


Dalam paparannya, Ketua Umum Pemuda Katolik menekankan bahwa generasi muda—khususnya Generasi Z dan milenial—memiliki modal demografis dan etis untuk menjadi aktor perubahan. Dengan penguasaan signifikan terhadap suara nasional, kaum muda dipanggil bukan sekadar menjadi penonton politik, melainkan subjek aktif yang mengedepankan nilai, integritas, dan keberpihakan pada kepentingan bersama. “Gerak Pemuda Katolik harus berpijak pada nilai altar, namun berdampak nyata di ruang publik,” tegasnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerasulan Awam KWI menegaskan peran kerasulan awam sebagai jembatan antara iman dan kehidupan sosial-politik. Ia menyoroti pentingnya formasi yang berkelanjutan agar partisipasi umat tidak berhenti pada kepedulian, tetapi bertransformasi menjadi keterlibatan yang terstruktur, kolaboratif, dan berkelanjutan. Kepemimpinan awam, menurutnya, bertumbuh ketika nilai iman diterjemahkan menjadi praksis sosial yang adil dan solider.

Sementara itu, Prof. Ramelan Surbakti memberikan kerangka analitis tentang peta jalan partisipasi politik. Ia mengurai tantangan utama berupa jurang partisipasi—tingginya kepedulian sosial yang belum sebanding dengan keterlibatan politik formal—serta hambatan seperti pragmatisme dan sinisme terhadap lembaga. Solusi yang ditawarkan menekankan pembangunan “jembatan aksi”: transformasi digital, literasi politik, dan kolaborasi lintas iman serta organisasi masyarakat sipil. Studi kasus gerakan Pemuda Katolik juga disebut sebagai bukti bahwa pendekatan kolaboratif dan literasi nilai efektif membangun politik yang bermartabat. 


Satu pesan kunci: kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab moral. Dari altar ke ruang publik, Pemuda Katolik dipanggil untuk merawat demokrasi dengan akal sehat, hati nurani, dan keberanian bertindak. Engelbertus Kukuh Widijatmoko alias dosenblankon memoderatori seminar nasional KICK OFF POLITIKU. 

Hal tersebut dipaparkan dalam KICK OFF Politku—Sekolah Politik dan Demokrasi—resmi dimulai. Dan ini bukan seminar basa-basi. Ini adalah pernyataan sikap Pemuda Katolik Jawa Timur: politik tak boleh ditinggal pada kaum oportunis, apalagi diserahkan pada kekuasaan tanpa etika.

Postingan Terkait

Cari Blog Ini