Dosenblankon: Belajar Bikin Tidak Tambah Pintar?
Pertanyaannya provokatif. Tapi justru di situ letak refleksinya.
Kalau belajar hanya menambah informasi, memang belum tentu membuat kita lebih pintar. Kita bisa hafal teori, fasih istilah, bahkan piawai presentasi—tetapi tetap gagap membaca realitas, miskin empati, dan kaku dalam mengambil keputusan.
Dalam perspektif Dosenblankon, belajar bukan soal menumpuk isi kepala. Belajar adalah proses mengolah:
Olah pikir → mampu membedakan fakta dan opini.
Olah rasa → peka pada konteks dan dampak sosial.
Olah laku → berani bertanggung jawab atas pilihan.
Kalau belajar tidak mengubah cara berpikir, tidak memperhalus rasa, dan tidak mematangkan sikap—maka benar, itu tidak membuat kita tambah pintar. Itu hanya membuat kita tambah penuh.
Blankon dalam “Dosenblankon” bukan simbol romantik budaya. Ia adalah pengingat:
Ilmu harus membumi.
Akal harus berakar.
Kepintaran harus punya arah.
Maka pertanyaannya dibalik:
Bukan “belajar bikin tidak tambah pintar?”
Tetapi, kita belajar untuk apa?
Karena pintar itu bukan sekadar tahu banyak,
melainkan tahu kapan harus bicara,
kapan harus diam,dan kapan harus berpihak.

