2026/01/18

PROBLEMATIKA PROFESI GURU DI ERA DIGITAL

Kota Dampit, dengan segala pernak-pernik kehidupan di dalamnya. Minggu, 18 Januari 2026, saat sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi pahit yang dibarengi hisapan sebatang rokok, pikiran saya berkecamuk memikirkan bagaimana arah hidup ke depan. Dalam suasana itu, saya mencoba berpikir sambil menulis tentang problematika guru dan tantangannya di era digital yang serba klik.


Oleh : Supriadi, Guru 

Sebuah pemikiran yang lahir dari keprihatinan kita bersama: betapa cepat anak-anak kita belajar meremehkan, betapa mudahnya mereka menilai, dan betapa gampangnya mereka melewati batas-batas adab hanya karena perangkat yang ada dalam genggaman. Zaman digital telah membawa banyak manfaat, akan tetapi ia juga melahirkan generasi yang kadang merasa bahwa satu sentuhan layar dapat menggantikan kerja keras, bahwa satu komentar singkat dapat menghilangkan wibawa, dan bahwa kesalahan kecil guru layak dipublikasikan tanpa ampun.

Melalui pemikiran ini, saya ingin mengingatkan bahwa guru bukan hanya pendidik di sekolah, tetapi juga cermin adab. Bahwa adab yang semakin hilang harus kita hidupkan kembali, bahwa marwah guru harus kita tegakkan lagi, dan bahwa tantangan zaman ini tidak boleh membuat kita kehilangan rasa hormat kepada orang yang mengajarkan kita satu huruf sekalipun. Di tengah gencarnya era digital, mari kita menjaga guru, karena merekalah yang menjaga masa depan kita dan anak-anak kita.

Di tengah gencarnya era digital, profesi guru hari ini memasuki babak baru yang penuh paradoks: dihormati saat berhadapan, namun sering direndahkan saat berada di belakang; dianggap pilar pendidikan, namun kerap disingkirkan dalam dinamika sosial dan politik; dibutuhkan untuk mendidik penerus bangsa, namun sering menjadi sasaran utama kemarahan publik yang tersulut oleh potongan video di media sosial.

Kita hidup di zaman ketika perhatian bergerak lebih cepat daripada pola pikir, dan opini melaju lebih cepat daripada kebenaran. Dalam lingkaran itu, guru menjadi pihak yang paling rentan. Mereka ditempatkan dalam posisi serba salah: disorot tajam ketika salah, tetapi nyaris tak terlihat ketika berjasa.

Padahal, dalam pandangan Islam, posisi guru sangatlah agung. Para ulama mewarisi kedudukan para nabi, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” Bukan karena gelar atau posisi sosialnya, melainkan karena visi dan misi yang dibawanya: mencerdaskan, menata adab, dan menjaga peradaban. Imam Malik pernah menasihatkan, “Pelajarilah adab sebelum ilmu,” karena beliau memahami bahwa runtuhnya adab akan meruntuhkan nilai ilmu itu sendiri.

Permasalahannya, inilah tantangan terbesar guru zaman kini: adab yang semakin terpupus. Kita menyaksikan kenyataan anak didik yang semakin berani menantang guru, meremehkan dengan suara sinis, atau bahkan mempermalukan pendidiknya melalui gawai. Ada murid yang merekam gurunya secara diam-diam, mengeditnya, lalu menjadikannya bahan ejekan yang viral. Padahal Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Siapa yang mengajarkanku satu huruf, maka ia telah menjadikanku seperti hambanya.” Betapa jauhnya jarak antara pandangan generasi terdahulu dengan generasi sekarang.

Kenyataan lain yang tak kalah berat adalah politisasi guru. Banyak guru dipaksa masuk ke dalam lingkaran kepentingan yang bukan miliknya. Mereka didorong mengikuti arus kebijakan yang tidak selaras dengan prinsip pendidikan, diminta menyampaikan hal-hal yang bukan tanggung jawabnya, atau ditekan untuk mengambil posisi tertentu. Guru yang seharusnya menjadi penjaga cara berpikir bangsa justru dipaksa meninggalkan kemerdekaan pemikirannya. Padahal ilmu menuntut ketenangan, independensi, dan kejernihan akal.

Di sisi lain, anak-anak kita hidup dalam dunia yang bergerak lebih cepat daripada jiwa mereka. Media sosial membentuk cara mereka belajar, mencari kebenaran, bahkan membentuk cara mereka mempersepsi penguasa yang sah. Bagi sebagian anak, Google dianggap lebih benar daripada guru; TikTok lebih menarik daripada kelas; dan komentar warganet lebih berpengaruh daripada nasihat seorang pendidik.

Inilah kenyataan yang harus kita hadapi: guru bukan hanya mendidik akal, tetapi juga harus memulihkan karakter di tengah dunia yang memudarkan karakter itu sendiri.

Namun, tekanan yang menimpa guru bukan alasan untuk berhenti berharap. Justru ini menjadi titik refleksi bagi kita sebagai masyarakat. Orang tua, masyarakat, pemerintah, dan media harus berdiri bersama guru, bukan membiarkannya berjuang sendirian.

Jika kita menginginkan masa depan bangsa yang lebih bercahaya, maka marwah guru harus dikembalikan. Kita perlu menghidupkan kembali adab, menguatkan penghormatan kepada orang berilmu, dan membiasakan anak-anak memahami bahwa guru bukan pelayan, bukan objek kemarahan, dan bukan sasaran politisasi, melainkan pilar penyangga peradaban.

Kita pun perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah membela guru? Ataukah tanpa sadar justru ikut meruntuhkan wibawa mereka? Apakah kita mengajarkan adab kepada anak-anak, atau membiarkan gawai mengambil alih peran kita?

Refleksi ini sangat penting, karena masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, gedung sekolah, atau teknologi pembelajaran, tetapi juga oleh cara kita memperlakukan guru hari ini. Jika guru dihormati, ilmu akan berberkah. Jika guru ditinggikan, karakter bangsa akan terangkat. Sebaliknya, jika guru diremehkan, direndahkan, dan disakiti, maka generasi yang lahir adalah generasi tanpa adab.

Akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya pada guru, melainkan juga pada masyarakat yang harus belajar kembali bagaimana memuliakan guru. Karena di balik setiap orang hebat, selalu ada seorang guru. Dan di balik runtuhnya sebuah peradaban, sering kali ada guru yang tidak lagi dihormati.

Di tengah gencarnya kehidupan modern, kita kerap lupa bahwa sebagian besar diri kita hari ini dibentuk oleh tangan-tangan guru yang tak pernah meminta balasan. Mereka mengajar, membimbing, menempa kesabaran, bahkan memikul beban emosional yang tak selalu terlihat. Namun, di zaman serba cepat ini, tradisi berterima kasih perlahan menghilang. Kita lebih mudah mengingat kekurangan guru daripada pengorbanannya, lebih cepat mengkritik daripada menghargai, dan lebih gemar menuntut daripada bersyukur.

Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, bersyukur kepada guru merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Penghormatan kepada guru bukan sekadar etika sosial, melainkan juga akhlak spiritual. Ilmu yang sampai kepada kita adalah amanah mulia, dan guru adalah perantara amanah itu. Meremehkan guru berarti meremehkan anugerah yang Allah titipkan melalui mereka.

Tulisan dari pikiran kecil ini ingin mengetuk kembali kesadaran kita: bahwa penghormatan, ucapan terima kasih, dan menjaga marwah guru merupakan bagian dari menjaga keberkahan ilmu dan masa depan generasi.

Jika kita melihat lebih dalam, problematika profesi guru di era digital tidak dapat dilepaskan dari konsep yang dalam studi sosial dikenal sebagai Exos Theory (teori eksosistem). Teori ini menjelaskan bahwa perilaku guru dan siswa tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan kelas, tetapi juga oleh lingkungan eksternal seperti media sosial, kebijakan pendidikan, tekanan politik, opini publik, dan budaya digital yang terus membentuk cara berpikir.

Guru hari ini tidak hanya berhadapan dengan murid, tetapi juga dengan kamera ponsel, algoritma media sosial, tuntutan administratif, narasi publik yang mudah menyalahkan, serta kebijakan yang berubah lebih cepat daripada kesiapan di lapangan. Dalam teori ini, tanggung jawab moral tidak hanya berada di pundak guru, tetapi juga pada masyarakat sebagai lingkungan pembentuk sikap. Jika lingkungan sosial gagal menanamkan adab, maka jangan sepenuhnya menyalahkan guru yang bekerja di dalamnya.

Blangkon bukan sekadar penutup kepala dalam budaya Jawa, melainkan simbol pengendalian diri, ketenangan berpikir, dan etika batin. Blangkon mengajarkan bahwa pikiran harus dibatasi oleh adab dan kejernihan, serta bahwa kehormatan lahir dari kemampuan menahan diri dalam situasi sulit. Jika Exos Theory menjelaskan besarnya pengaruh lingkungan terhadap perilaku, maka Blangkonisme menawarkan jalan keluar: mengatur hati di tengah lingkungan yang kacau.

Masyarakat yang berblangkon adalah masyarakat yang tidak mudah tersinggung, tidak gemar mempermalukan, dan tidak menjadikan guru sebagai pelampiasan kegagalan sistem. Maka sesungguhnya, problematika guru di era digital bukan semata persoalan teknologi, melainkan krisis lingkungan sosial dan hilangnya prinsip hidup.

Tanpa perbaikan di sisi itu, guru akan terus berjalan sendirian di tengah badai, dan kita akan terus melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin adab.

Akhirnya, dari secangkir kopi pahit dan asap rokok yang perlahan memudar, refleksi ini menjadi pengingat: guru tidak hanya membutuhkan kurikulum dan teknologi, tetapi juga lingkungan yang beradab dan budaya yang menghormati ilmu. Sebab peradaban tidak runtuh karena kebodohan semata, melainkan karena hilangnya rasa hormat kepada mereka yang menjaga ilmu itu.

Salam hormat,

salam ta’dim,

untuk guru-guruku—

penjaga akal, penata adab, dan penyangga peradaban.

Postingan Terkait

Cari Blog Ini