MODEL REFLEKSI BLANKON–ERS
Dari Kesadaran Sosial Menuju Sikap Beradab yang Berkelanjutan
A. Pendahuluan
Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan hari ini, pembelajaran sering kali terjebak pada hafalan konsep dan angka-angka evaluasi. Peserta didik tahu banyak, tetapi kurang merasa. Mengerti aturan, tetapi gagap ketika harus bersikap. Di sinilah Model Refleksi BLANKON–ERS hadir bukan sebagai metode kaku, melainkan cara berjalan dalam memahami kehidupan sosial.
BLANKON–ERS berangkat dari keyakinan sederhana khas dosenblankon:
pendidikan yang baik bukan yang membuat anak pintar berbicara, tetapi yang menuntunnya mampu bersikap.
Model ini mengajak peserta didik berjumpa dengan realitas, merenungkan nilai, dan merawat ruang sosial melalui alur reflektif yang manusiawi, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal.
B. Definisi Model BLANKON–ERS
Model Refleksi BLANKON–ERS adalah model pembelajaran reflektif-sosial yang menuntun peserta didik dari pengalaman nyata menuju sikap beradab dan berkelanjutan melalui sepuluh tahapan refleksi yang saling terhubung.
BLANKON melambangkan identitas lokal dan kejernihan berpikir, sementara ERS menegaskan orientasi etik dan keberlanjutan sosial.
C. Tujuan Model BLANKON–ERS
Model ini dirancang untuk mencapai tujuan berikut:
1. Mengembangkan kesadaran sosial peserta didik berbasis realitas sehari-hari
2. Melatih kemampuan refleksi kritis dan empatik
3. Menumbuhkan kepekaan terhadap nilai yang terluka dalam kehidupan sosial
4. Membentuk sikap etis, rasa memiliki, dan tanggung jawab sosial
5. Mengarahkan pembelajaran IPS/Pancasila menjadi hidup, bermakna, dan berkelanjutan
D. Sintaks Lengkap Model BLANKON–ERS
1. B — Berjumpa Realitas
Makna Tahap
Pembelajaran dimulai bukan dari buku, tetapi dari kenyataan hidup. Peserta didik diajak membuka mata terhadap peristiwa sosial di sekitarnya.
Kata kunci: melihat, mengalami, menyadari
Contoh Implementasi
Guru mengajak siswa mengamati kondisi sekolah:
sampah berserakan,
antrean kantin tidak tertib,
tembok penuh coretan.
Guru tidak menghakimi, hanya bertanya ringan:
“Menurut kalian, ini biasa atau ada yang perlu dipikirkan?”
2. L — Lacak Jejak Sosial
Makna Tahap
Peserta didik menelusuri jejak kebiasaan sosial di balik peristiwa. Tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi mencari mengapa bisa terjadi.
Kata kunci: kebiasaan, pola, latar belakang
Contoh Implementasi
Siswa berdiskusi:
Mengapa sampah sering dibuang sembarangan?
Apakah karena tidak ada tempat sampah, atau karena kebiasaan?
Di sini, siswa belajar bahwa masalah sosial tidak pernah berdiri sendiri.
3. A — Analisis Ruang dan Struktur
Makna Tahap
Peserta didik diajak memahami aturan, sistem, dan struktur sosial yang mengelilingi peristiwa.
Kata kunci: aturan, peran, sistem
Contoh Implementasi
Siswa mengidentifikasi:
aturan sekolah tentang kebersihan,
peran petugas piket,
tanggung jawab warga sekolah.
Guru menegaskan:
“Ruang sosial itu hidup karena ada aturan dan peran.”
4. N — Nilai yang Terluka
Makna Tahap
Tahap paling reflektif: menyadari nilai apa yang dilanggar atau terluka dalam peristiwa sosial.
Kata kunci: kejujuran, tanggung jawab, kepedulian
Contoh Implementasi
Siswa menyebutkan:
nilai disiplin,
nilai tanggung jawab bersama,
nilai saling menghargai.
Mereka belajar bahwa setiap tindakan sosial selalu membawa konsekuensi nilai.
5. K — Kesadaran Diri dan Ruang
Makna Tahap
Peserta didik diajak bercermin: di mana posisiku dalam ruang sosial ini?
Kata kunci: refleksi diri, posisi sosial
Contoh Implementasi
Guru bertanya pelan:
“Apakah aku bagian dari masalah ini? Atau bagian dari solusi?”
Siswa menuliskan refleksi singkat tanpa dinilai benar-salah.
6. O — Olah Rasa dan Empati
Makna Tahap
Belajar merasakan, bukan hanya memahami. Peserta didik dilatih empati sosial.
Kata kunci: merasakan, memahami orang lain
Contoh Implementasi
Siswa diminta membayangkan:
perasaan petugas kebersihan,
teman yang terganggu lingkungan kotor.
Diskusi berlangsung hangat dan manusiawi.
7. N — Niat Perubahan
Makna Tahap
Refleksi harus berujung pada niat. Kecil, sederhana, tetapi lahir dari kesadaran.
Kata kunci: tekad, komitmen
Contoh Implementasi
Siswa menyebutkan niat pribadi:
membuang sampah pada tempatnya,
mengingatkan teman dengan sopan.
8. E — Etika Beradab
Makna Tahap
Peserta didik belajar memilih sikap yang pantas dan bermartabat.
Kata kunci: sopan, beradab, bermoral
Contoh Implementasi
Diskusi:
cara menegur teman tanpa menyakiti,
cara bersikap tegas tapi santun.
9. R — Rasa Memiliki Ruang Sosial
Makna Tahap
Ruang sosial dirasakan sebagai milik bersama, bukan milik orang lain.
Kata kunci: kepemilikan, kebersamaan
Contoh Implementasi
Siswa menyepakati:
“Sekolah ini rumah kita bersama.”
Muncul rasa menjaga, bukan sekadar mematuhi.
10. S — Sikap Merawat Nilai
Makna Tahap
Tahap akhir: keberlanjutan. Nilai tidak hanya dipahami, tetapi dirawat terus-menerus.
Kata kunci: konsistensi, keteladanan
Contoh Implementasi
Kelas membuat kesepakatan aksi:
jadwal kebersihan bersama,
pengingat etika sosial kelas.
E. Peran Guru dalam Model BLANKON–ERS
Guru bukan pusat ceramah, melainkan:
pemantik kesadaran,
penjaga ruang refleksi,
teladan sikap beradab.
Guru khas dosenblankon:
tidak menggurui,
tidak menghakimi,
tetapi menuntun dengan pertanyaan bermakna.
F. Peran Siswa dalam Model BLANKON–ERS
Siswa berperan sebagai:
pengamat realitas,
penafsir nilai,
pelaku perubahan sosial kecil.
Mereka belajar bahwa menjadi warga yang baik dimulai dari tindakan sederhana.
G. Penutup
BLANKON–ERS bukan sekadar sintaks pembelajaran. Ia adalah jalan sunyi pendidikan karakter—perlahan, reflektif, dan berakar pada kehidupan nyata.
Di dalamnya, anak tidak hanya belajar tentang masyarakat, tetapi belajar menjadi manusia yang beradab di tengah masyarakat.
Karena sejatinya, pendidikan bukan soal siapa yang paling tahu,
tetapi siapa yang paling mau merawat nilai bersama.
