Menyusuri Hari Minggu Bersama Keluarga
Oleh : Felicia Ekskul Jurnalistik SMP Bina Budi Mulia Kota Malang
Aku berada di gereja sambil menunggu sidang selesai. Aku menunggu agar bisa segera turun dan mencari adik serta kakakku. Kami berencana berangkat ke Pasuruan untuk bertemu nenek.
Setelah beberapa menit mencari di tengah kerumunan umat gereja, akhirnya aku menemukan adikku yang baru selesai mengikuti pelajaran gereja. Tak lama kemudian, aku juga bertemu kakakku bersama nenek. Kami pun segera turun melalui tangga menuju lantai satu, ke area parkir gereja, agar bisa segera berangkat ke Pasuruan.
Di parkiran, ayah dan ibu sudah berada di dalam mobil. Mesin mobil telah menyala dan pintu-pintunya terbuka. Aku segera masuk bersama adikku dan duduk di kursi belakang, sementara kakakku dan nenek duduk di tengah. Setelah semuanya siap, perjalanan menuju Pasuruan pun dimulai.
Waktu perjalanan terasa sangat lambat. Meski hanya sekitar dua setengah jam melalui jalan tol, aku tertidur sambil menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Aku sempat terbangun saat ayah menggunakan kartu tol dengan tongkat otomatis, lalu tertidur kembali. Ketika aku bangun lagi, mobil sudah keluar dari tol dan kami telah sampai di Pasuruan.
Biasanya, setelah tiba di Pasuruan kami langsung menuju rumah nenek. Namun kali ini berbeda. Kami justru menuju sebuah klenteng, tempat bibi, paman, dan sepupuku menunggu bersama nenek. Saat bangun dari tidur dan melihat suasana di sana, aku merasa nyaman. Klenteng tersebut cukup sepi, hanya ada keluarga kami dan beberapa pekerja yang sedang membersihkan area.
Dalam perjalanan, aku sempat mendengar pembicaraan orang tuaku bahwa klenteng ini menjadi tempat pertemuan sebelum kami pergi ke rumah nenek. Di klenteng, kami berkeliling melihat-lihat. Terdapat berbagai benda di area luar klenteng. Namun karena cuaca mulai panas, kami memutuskan untuk berteduh. Orang tuaku dan nenek duduk di salah satu bagian atap klenteng, sementara kami beristirahat sejenak. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke rumah nenek.
Di rumah nenek, aku bermain bersama sepupuku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga kebersamaan dengannya, meskipun kami hanya bisa bertemu satu atau dua kali dalam setahun. Mereka tinggal di Surabaya, sedangkan keluargaku tidak bisa sering bepergian karena harus menjaga toko sebagai sumber penghasilan. Karena itu, Pasuruan dan rumah nenek menjadi satu-satunya tempat kami bisa berkumpul.
Menjelang sore, keluarga kami harus pulang. Keluarga sepupuku juga harus segera berangkat untuk mengejar kereta menuju Surabaya. Dalam perjalanan pulang, keluargaku singgah di sebuah warung setelah keluar dari tol. Kami memesan makanan hangat sesuai porsi masing-masing, lalu membayar di kasir setelah selesai makan.
Sesampainya di rumah, kakak dan adikku mulai beres-beres di lantai bawah. Nenek diminta naik ke atas untuk beristirahat karena hari sudah malam. Ayah dan ibu memarkir mobil ke garasi. Kami sempat mengobrol bersama tentang kejadian hari itu, lalu menutup hari dengan doa bersama sebelum tidur. Hari Minggu pun berakhir sekitar pukul sebelas malam.
Keesokan harinya, aku bangun pagi dan kembali menjalani kehidupan sekolah. Aku lebih banyak bersosialisasi dengan teman-teman di kelas. Namun, di dalam hati aku tetap menunggu waktu untuk bisa bertemu lagi dengan sepupuku di masa depan, dengan harapan dapat menciptakan lebih banyak kenangan bersama.

