Kampus Penuh, Pikiran Kosong
Judul berita itu berdiri seperti papan peringatan di tikungan tajam pendidikan tinggi:
“Dosen nyerah, banyak Gen Z masuk kuliah tak becus membaca.”
Ia bukan sekadar laporan, melainkan penanda keretakan sistemik.
Blankonisme membaca tanda ini dengan tenang: bukan untuk menghakimi individu, tetapi untuk menelisik jaringan pengaruh di luar ruang kelas—wilayah yang oleh Eksos Theory disebut sebagai eksosistem.
Dalam teori ekologi Bronfenbrenner, eksosistem adalah ruang-ruang yang tidak langsung dihidupi individu, tetapi sangat menentukan kehidupannya: kebijakan pendidikan, algoritma media, budaya institusi, logika pasar.
Gen Z tidak bangun pagi lalu memutuskan untuk “tak becus membaca.”
Mereka dibentuk oleh eksosistem yang mengutamakan kecepatan, ringkasan, dan visualisasi instan.
Maka masalah literasi ini bukan hanya urusan mahasiswa dan dosen, tetapi produk lingkungan struktural.
Data literasi menunjukkan pola yang konsisten:
Durasi membaca panjang menurun.
Konsumsi konten pendek meningkat tajam.
Kemampuan analisis teks kompleks melemah.
Dalam kacamata eksosistem, ini logis.
Mahasiswa hidup di dunia yang memberi hadiah pada respons cepat, bukan pada perenungan.
Kampus, ironisnya, sering ikut memperkuatnya—dengan beban administrasi, target akreditasi, dan pembelajaran yang mengejar output, bukan proses.
Blankonisme menolak logika kambing hitam.
Jika dosen menyerah, itu bukan karena kehilangan idealisme semata,
tetapi karena terhimpit eksosistem institusional:
kelas besar, waktu sempit, tuntutan birokrasi, dan minimnya ruang refleksi pedagogis.
Dalam kerangka eksosistem, kelelahan dosen adalah gejala struktural, bukan kelemahan personal.
Membaca adalah laku budaya.
Dan budaya tidak tumbuh di ruang hampa.
Ketika eksosistem sosial menempatkan membaca sebagai aktivitas “tidak produktif secara ekonomi”,
maka kampus pun ikut terinfeksi logika yang sama.
Blankonisme mengingatkan:
jika membaca tidak lagi dirawat sebagai kebajikan sosial,
ia akan mati pelan-pelan di tengah kesibukan yang tampak ilmiah.
Ekos Theory mengajarkan bahwa perubahan tidak cukup menyasar aktor utama.
Mengajari mahasiswa membaca tanpa mengubah ekosistemnya
ibarat menyuruh ikan berlari di darat.
Blankonisme mendorong rekayasa lingkungan:
kurikulum yang memberi ruang baca perlahan,
evaluasi yang menghargai proses berpikir,
institusi yang melindungi dosen dari kelelahan struktural.
Perubahan harus menyentuh lingkar luar, bukan hanya pusat kelas.
Membaca bukan sekadar teknik akademik,
tetapi cara manusia mengendapkan pengalaman.
Dalam eksosistem yang gaduh, membaca adalah bentuk perlawanan sunyi.
Blankonisme memandang membaca sebagai laku eling lan waspada:
menunda reaksi, merawat jarak, dan mengolah makna.
Tanpa nilai ini, kampus hanya akan menghasilkan lulusan yang cepat, tapi dangkal.
Eksosistem digital membentuk etika baru:
menyalin lebih cepat daripada memahami,
berpendapat sebelum membaca,
viral sebelum benar.
Kasus “tak becus membaca” sering bermuara pada plagiarisme dan miskinnya argumen.
Blankonisme melihat ini bukan sekadar pelanggaran etika individu,
melainkan krisis moral eksosistem pengetahuan.
Dalam kerangka eksosistem, dosen bukan satu-satunya penentu,
tetapi ia adalah simpul strategis.
dosenblankon tidak menyerah,
ia menggeser peran: dari penguasa materi menjadi perawat nalar.
Ia sadar tak bisa mengubah algoritma dunia,
tetapi bisa menciptakan mikro-ekosistem kelas yang ramah pada membaca dan berpikir.
Berita itu adalah cermin, bukan vonis.
Gen Z yang “tak becus membaca” adalah produk eksosistem yang tergesa-gesa.
Dosen yang menyerah adalah korban struktur yang kelelahan.
Blankonisme, dalam terang Eksos Theory, menegaskan:
perbaikan literasi bukan proyek moral individu,
melainkan rekonstruksi lingkungan belajar.
Jika eksosistem tak diubah,
maka kampus akan terus melahirkan sarjana tanpa kesabaran membaca.
Namun jika lingkungan dirawat,
maka membaca akan kembali menjadi laku hidup,
bukan sekadar syarat kelulusan.
Karena perguruan tinggi sejati
bukan tempat orang cepat lulus,
melainkan ruang di mana manusia
belajar pelan untuk memahami dunia.

