Dongeng: Super Paman di Negeri Wayang
Orang-orang sering bercerita tentang paman-paman besar di dunia.
Ada paman yang kuat, ada paman yang kaya.
Namun di negeri wayang, dikenal satu jenis paman lain: paman pengubah keadaan.
Oleh : LookMan, Tukang Poto
Di panggung itu, para Punakawan hidup di bawah paugeran yang katanya ajeg. Aturan ditatah seperti ukiran kayu jati—keras, tertib, dan diwariskan turun-temurun. Tetapi suatu hari, angin bertiup lain. Ukiran itu ternyata bisa diserut, dirapikan ulang, bahkan dibengkokkan—asal tangan yang memegang pahat cukup berwibawa.
Konon, ada paman sepuh, penjaga tatanan, yang demi rasa sayang pada ponakan, membantu membuka jalan pintas menuju kursi tinggi. Bukan karena perjalanan sang ponakan sudah lengkap, melainkan karena waktu dianggap bisa dikejar sambil berjalan.
Tak lama berselang, kisah serupa kembali terdengar. Kali ini tentang paman istana, yang memberi restu agar seorang ponakan lain duduk di ruang sunyi penjaga keseimbangan negeri. Ruang yang seharusnya dingin, mandiri, dan jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan.
Sebagian Punakawan mulai bertanya dalam hati:
Jika penjaga sudah berutang budi, pada siapa ia akan bersandar?
Kegelisahan itu bukan tanpa bayangan. Di seberang panggung, pernah ada negeri yang kuat, namun pelan-pelan menyerupai kerajaan. Sang paman penguasa ingin semua irama berjalan sesuai tabuhannya—termasuk lembaga yang semestinya berdiri sendiri.
Anehnya, tabuhan itu terdengar akrab. Seperti pernah dipelajari, bahkan ditiru, oleh para paman di panggung sendiri.
Punakawan hanya bisa tersenyum pahit.
Di negeri yang paman-pamannya terlalu perkasa, aturan bisa kalah oleh hubungan, dan kelayakan bisa ditunda oleh kedekatan.
Memang nyaman hidup di bawah lindungan paman.
Namun diam-diam, panggung kehilangan maknanya.
Maka wayang pun berbisik lirih:
bukan jabatan yang runtuh,
melainkan kepercayaan.*

