2026/01/20

Blankonisme: FOMO VS JOMO

 


Di zaman ketika layar lebih sering disentuh daripada tangan sesama, manusia hidup seperti pelari maraton tanpa garis akhir. Jempol bekerja lembur, mata jarang beristirahat, dan pikiran terus dibombardir kabar yang bahkan belum tentu perlu. Di sinilah FOMO tumbuh—bukan sebagai penyakit teknologi, melainkan kegelisahan batin yang lupa caranya pulang. Blankonisme datang bukan membawa obat, melainkan kesadaran.

Blankon, dalam imaji blankonisme, bukan aksesori masa lalu. Ia adalah rem kultural. Ia mengingatkan bahwa kepala manusia bukan sekadar tempat menerima informasi, melainkan ruang menimbang makna. Dalam dunia digital yang memuja kecepatan, blankonisme memilih kelambatan yang sadar. Ia tidak menolak arus, tetapi berenang dengan irama sendiri.

JOMO, dalam kacamata blankonisme, bukan kesenangan karena tertinggal, melainkan kegembiraan karena berdaulat. Seperti orang yang duduk di serambi rumah, menikmati angin sore tanpa perlu tahu pesta apa yang sedang berlangsung di seberang desa. Blankonisme mengajarkan bahwa tidak hadir di semua keramaian bukanlah kekalahan, melainkan pilihan etis: memilih diri sendiri tanpa harus memusuhi dunia.

Dalam keseharian, blankonisme bekerja diam-diam. Ia hadir saat seseorang mematikan notifikasi demi menyelesaikan satu bacaan dengan utuh. Ia bernafas ketika kopi diminum perlahan, bukan demi unggahan, melainkan perjumpaan dengan rasa. Ia berjalan saat percakapan tatap muka dibiarkan mengalir tanpa disela kamera. Di situ JOMO bukan jargon, melainkan laku hidup.

Blankonisme juga mendidik keberanian untuk tidak reaktif. Tidak semua tren perlu ditanggapi, tidak semua opini perlu disahuti, dan tidak semua kegaduhan perlu ditumpangi. Seperti blankon yang menjaga kepala tetap tegak, blankonisme menjaga nalar agar tidak terhuyung oleh riuh linimasa. Ia melatih manusia untuk memilih hening sebagai ruang berpikir, bukan sebagai kekosongan.

Pada akhirnya, blankonisme adalah pedagogi sunyi di era bising. Ia mengajarkan bahwa kehilangan beberapa momen digital bukanlah kehilangan hidup. Justru dalam JOMO, manusia menemukan kembali ritme dirinya—utuh, sadar, dan merdeka. Sebab tidak selalu ikut bukan berarti tertinggal; sering kali itu tanda bahwa kita sedang benar-benar hadir.

Postingan Terkait

Cari Blog Ini