Blankonisme, Eksos Theory, dan Konflik Sosial: Membaca Ketegangan Zaman dari Struktur yang Tak Terlihat
Pada suatu sore yang tenang, di bawah atap pendopo yang mulai dimakan usia, seorang petani bercerita tentang tanah yang tak lagi bisa ia tanami. Suaranya datar, nyaris tanpa amarah, seolah kehilangan telah menjadi bagian dari keseharian. Di cerita itu tidak ada istilah kebijakan publik, relasi kuasa, atau konflik struktural. Yang ada hanyalah rasa heran: mengapa hidup yang dijalani turun-temurun tiba-tiba terasa asing di tanah sendiri. Dari kisah sederhana inilah kita belajar bahwa konflik sosial jarang bermula dari kebencian; ia lahir dari keterputusan antara manusia dan sistem yang mengatur hidupnya.
Blankon yang dikenakan bukan sekadar penanda budaya, melainkan simbol kerendahan hati dalam membaca realitas. Ia mengingatkan bahwa berpikir tidak selalu harus tegak dan lantang; kadang perlu menunduk agar tak kehilangan arah. Dalam laku blankonisme, teori tidak dipuja sebagai kebenaran mutlak, melainkan diperlakukan sebagai alat untuk memahami penderitaan dan harapan manusia. Konflik sosial, dengan demikian, bukan angka statistik atau grafik kebijakan, melainkan pengalaman hidup yang nyata.
Tulisan ini mengajak pembaca berhenti sejenak dari hiruk-pikuk penilaian cepat. Ia menawarkan ruang untuk mendengar ulang konflik—bukan sebagai gangguan, tetapi sebagai pesan. Pesan tentang struktur yang timpang, relasi kuasa yang membatu, dan manusia yang terus mencari keadilan dengan cara yang mereka miliki. Dari titik inilah perjalanan pemikiran ini dimulai.
Gagasan
Blankonisme bukan sekadar simbol kultural, melainkan cara berpikir. Ia adalah laku intelektual yang mengajak manusia menunduk agar mampu melihat lebih jernih. Dalam konteks konflik sosial, blankonisme menawarkan sudut pandang yang membumi: konflik tidak dilihat sebagai kegaduhan semata, tetapi sebagai tanda adanya ketegangan struktural yang belum terselesaikan. Ketika blankon dipakai, kepala tertutup dari kesombongan, tetapi mata justru dibuka selebar-lebarnya pada realitas sosial.
Gagasan utama tulisan ini adalah bahwa konflik sosial hanya dapat dipahami secara utuh ketika kita mempertemukan tiga lensa sekaligus: blankonisme sebagai etika dan kepekaan lokal, eksos theory sebagai pembacaan struktur eksternal, dan teori konflik sosial sebagai pisau analisis relasi kuasa. Ketiganya saling mengisi, saling mengoreksi, dan bersama-sama membongkar ilusi bahwa konflik lahir semata-mata dari kesalahan individu.
Dalam masyarakat modern yang kompleks, konflik sering disederhanakan sebagai persoalan perilaku, emosi, atau perbedaan pendapat. Padahal, konflik adalah bahasa sosial yang muncul ketika struktur tidak lagi adil, akses tidak lagi setara, dan suara warga tak lagi mendapat ruang. Blankonisme mengingatkan: bila konflik terus berulang, mungkin yang perlu diperiksa bukan manusianya, melainkan sistemnya.
Alasan
Ada beberapa alasan mengapa irisan blankonisme, eksos theory, dan konflik sosial menjadi penting untuk dirumuskan secara utuh. Pertama, banyak pendekatan konflik terlalu elitis. Teori besar sering lahir dari ruang akademik yang jauh dari kehidupan masyarakat akar rumput. Akibatnya, konflik dibaca secara abstrak, kehilangan rasa, dan miskin empati.
Kedua, konflik sosial di Indonesia dan banyak masyarakat lain sering disalahpahami. Konflik agraria dianggap anti-pembangunan, konflik pendidikan dilihat sebagai kemalasan individu, konflik identitas dipersempit menjadi intoleransi personal. Cara baca semacam ini berbahaya karena mengaburkan akar struktural konflik dan justru menyalahkan korban.
Ketiga, eksos theory mengingatkan bahwa manusia hidup dalam struktur eksternal—kebijakan, ekonomi, budaya, teknologi—yang membentuk pilihan dan keterbatasannya. Tanpa memahami faktor eksos ini, konflik akan selalu dipahami secara parsial. Karl Marx telah lama menegaskan bahwa konflik lahir dari relasi produksi yang timpang. Ralf Dahrendorf menambahkan bahwa otoritas dan kekuasaan adalah sumber konflik yang tak terhindarkan. Johan Galtung memperluasnya dengan konsep kekerasan struktural.
Blankonisme hadir sebagai alasan keempat: kebutuhan akan pendekatan yang tidak tercerabut dari konteks lokal. Ia menolak cara pandang yang mengimpor teori tanpa membumikan makna. Blankonisme adalah jembatan antara teori dan kehidupan sehari-hari.
Rumusan
Berdasarkan gagasan dan alasan tersebut, rumusan utama dalam narasi ini adalah:
Konflik sosial merupakan fenomena struktural yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh eksos (struktur eksternal).
Blankonisme menawarkan etika membaca konflik secara kontekstual, humanis, dan membumi.
Teori konflik sosial memberikan kerangka kritis untuk memahami relasi kuasa, ketimpangan, dan distribusi sumber daya.
Irisan ketiganya memungkinkan pembacaan konflik sosial yang lebih adil, reflektif, dan transformatif.
Konflik sosial, bila dipahami dengan benar, dapat menjadi pintu perubahan sosial, bukan ancaman stabilitas semata.
Rumusan ini menjadi fondasi untuk mengurai konflik sosial secara konkret dalam kehidupan masyarakat.
Uraian
Konflik agraria adalah contoh paling nyata bagaimana eksos theory bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Di banyak wilayah, petani berhadapan dengan korporasi atau negara terkait penguasaan tanah. Konflik ini sering dipersepsikan sebagai penolakan terhadap pembangunan. Namun blankonisme membaca tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan ruang hidup, identitas, dan memori kolektif.
Karl Marx akan menyebut konflik ini sebagai konflik kelas: antara pemilik modal dan mereka yang hidup dari tenaga dan tanah. Johan Galtung akan menyebutnya kekerasan struktural, karena sistem hukum dan kebijakan membuat petani kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar. Blankonisme menambahkan satu lapisan penting: konflik ini adalah bentuk perlawanan kultural terhadap penghapusan martabat.
Eksos theory menjelaskan mengapa konflik agraria tidak pernah benar-benar selesai. Struktur kebijakan yang timpang, relasi kuasa yang asimetris, dan absennya partisipasi warga menciptakan konflik laten yang sewaktu-waktu meledak.
Konflik pendidikan juga tak kalah kompleks. Kesenjangan kualitas sekolah, akses fasilitas, dan dukungan keluarga menciptakan konflik simbolik yang sering tak disadari. Anak dari keluarga miskin sering dicap kurang berprestasi, padahal mereka hidup dalam struktur eksos yang membatasi peluang sejak awal. Ralf Dahrendorf membantu kita melihat konflik ini sebagai konflik otoritas: siapa yang menentukan standar keberhasilan, dan untuk siapa standar itu dibuat.
Blankonisme mengkritik sistem pendidikan yang kehilangan empati sosial. Ketika kurikulum dan evaluasi tidak sensitif terhadap konteks sosial peserta didik, pendidikan justru mereproduksi ketimpangan. Konflik tidak selalu muncul dalam bentuk protes, tetapi dalam keheningan: putus sekolah, rendahnya rasa percaya diri, dan hilangnya harapan.
Konflik identitas—agama, etnis, budaya—sering dianggap sebagai konflik emosional atau moral. Padahal, eksos theory menunjukkan bahwa identitas sering dimobilisasi oleh struktur politik dan ekonomi. Lewis A. Coser menegaskan bahwa konflik kelompok menguat ketika ada kompetisi sumber daya dan ancaman eksternal. Blankonisme membaca konflik identitas sebagai konflik yang diproduksi secara struktural, tetapi dijalani secara personal oleh warga biasa.
Di perkotaan, konflik ruang hidup menjadi wajah lain dari ketimpangan struktural. Penggusuran kawasan kumuh sering dibungkus narasi ketertiban dan pembangunan. Namun bagi warga, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan jejaring sosial dan sejarah hidup. Konflik ini adalah benturan antara logika teknokratis dan logika kemanusiaan.
Bahkan di ruang digital, konflik sosial menemukan bentuk baru. Polarisasi opini dan ujaran kebencian bukan semata kesalahan individu. Algoritma media sosial—sebagai struktur eksos modern—mendorong konten konflik karena lebih menguntungkan secara ekonomi. Konflik menjadi komoditas, dan masyarakat menjadi pasar emosi.
Semua contoh ini menegaskan satu hal: konflik sosial selalu lebih besar dari individu yang terlibat di dalamnya.
Dampak
Jika konflik terus dibaca secara dangkal, dampaknya serius. Pertama, terjadi kriminalisasi korban. Warga yang melawan ketidakadilan dicap pembuat onar. Kedua, konflik laten mengendap dan diwariskan lintas generasi. Ketiga, kepercayaan publik terhadap institusi melemah karena konflik tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Namun jika konflik dibaca dengan irisan blankonisme, eksos theory, dan teori konflik sosial, dampaknya justru konstruktif. Konflik menjadi sumber refleksi kebijakan, pintu dialog sosial, dan energi perubahan. Seperti ditegaskan Lewis A. Coser, konflik dapat memperkuat solidaritas internal dan memperjelas batas-batas keadilan.
Blankonisme menegaskan bahwa konflik adalah tanda kehidupan sosial yang sehat—selama ia diolah dengan jujur dan adil.
Ajakan
Sudah saatnya kita berhenti takut pada konflik. Yang perlu ditakuti bukan konflik itu sendiri, melainkan ketidakadilan yang disembunyikan di balik jargon stabilitas. Mari mengenakan blankon—secara simbolik dan intelektual—agar kita tidak silau oleh kekuasaan dan tidak tuli terhadap suara dari bawah.
Mari membaca konflik sosial bukan dengan emosi sesaat, tetapi dengan kepekaan struktural. Mari mendidik generasi muda untuk melihat bahwa masalah pribadi sering berakar pada problem publik. Dan mari mendorong kebijakan yang tidak hanya meredam konflik, tetapi menyembuhkan akar ketimpangannya.
Sebab konflik yang didengarkan dengan jujur akan melahirkan keadilan. Tetapi konflik yang dibungkam hanya akan menunggu waktu untuk kembali, dengan luka yang lebih dalam.

