Blankonisme dan EKSOS Theory: Merawat Nurani di Zaman Sistem
Di tengah zaman yang bergerak cepat dan kerap menyingkirkan manusia dari pusat perhatian, kita membutuhkan cara berpikir yang tidak hanya tajam, tetapi juga berakar. Blankonisme dan EKSOS Theory hadir sebagai dua jalan membaca realitas sosial yang sama-sama kritis, namun berangkat dari pijakan yang berbeda. Keduanya seperti dua sisi mata uang kesadaran: yang satu menjaga rasa dan makna agar manusia tidak tercerabut dari jati dirinya, yang lain membongkar struktur agar kita memahami mengapa ketimpangan dan ketegangan terus berulang. Pengantar ini mengajak pembaca masuk ke ruang dialog keduanya—bukan untuk memilih salah satu, melainkan untuk merawat nalar dan nurani secara bersamaan.
Blankonisme dan EKSOS Theory lahir dari kegelisahan yang sama: kegelisahan melihat manusia yang makin hari makin kecil di hadapan sistem yang makin hari makin besar. Keduanya bukan lahir dari ruang hampa, melainkan dari pengalaman membaca zaman yang terasa gaduh, cepat, dan sering kali lupa berhenti untuk menoleh ke belakang—ke manusia itu sendiri. Dalam dunia yang dipenuhi kebijakan, algoritma, grafik, dan target, manusia kerap diposisikan seperti penumpang di gerbong panjang bernama peradaban: ikut bergerak, tapi jarang diajak menentukan arah.
EKSOS Theory memandang dunia seperti sebuah ekosistem sosial yang saling terhubung. Ia bekerja dengan logika sistemik: individu, institusi, teknologi, budaya, dan kekuasaan saling berkelindan membentuk satu jaringan besar. Dalam jaringan ini, tidak ada tindakan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kebijakan melahirkan dampak, setiap inovasi memicu reaksi, setiap keputusan menyisakan residu sosial. EKSOS Theory mengajak kita melihat pola, bukan sekadar peristiwa; melihat relasi, bukan hanya aktor. Ia seperti peta topografi sosial yang menunjukkan mana dataran tinggi kekuasaan, mana lembah ketimpangan, dan mana sungai konflik yang mengalir diam-diam tapi menghanyutkan.
Namun peta, betapapun detailnya, tidak pernah menceritakan rasa. Di sinilah Blankonisme hadir dengan langkah yang berbeda. Blankonisme tidak lahir dari ruang rapat atau jurnal tebal, melainkan dari pengalaman hidup, dari obrolan, dari pengamatan sehari-hari terhadap manusia yang berjuang dalam kesederhanaan. Blankonisme adalah cara berpikir yang berangkat dari kebudayaan, dari identitas lokal, dari kesadaran bahwa manusia tidak hanya hidup dalam sistem, tetapi juga dalam makna. Blankonisme seperti blankon yang dikenakan di kepala: tampak sederhana, bahkan kadang dianggap kuno, tetapi sesungguhnya menyimpan arah, martabat, dan penanda jati diri.
Jika EKSOS Theory bertanya, “Bagaimana sistem bekerja?”, maka Blankonisme bertanya, “Apa yang dirasakan manusia ketika sistem bekerja?” Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi justru sering dilupakan. Dalam dunia yang terlalu sibuk menghitung, Blankonisme mengingatkan pentingnya merasakan. Dalam dunia yang gemar mengukur, Blankonisme mengajak menimbang dengan hati. Ia menolak menjadikan manusia sekadar angka statistik, target kinerja, atau data pelengkap dalam laporan kebijakan.
Perbedaan keduanya juga tampak dalam cara memandang modernitas dan teknologi. EKSOS Theory membaca teknologi sebagai bagian integral dari ekosistem sosial. Teknologi bukan benda netral; ia membawa kepentingan, ideologi, dan relasi kuasa. Algoritma, misalnya, tidak sekadar menyusun informasi, tetapi juga menentukan apa yang tampak dan apa yang tenggelam. Dalam kacamata EKSOS Theory, teknologi bisa menjadi akselerator ketimpangan jika dikuasai segelintir pihak dan diakses secara timpang. Maka kritik EKSOS Theory bersifat struktural: siapa yang mengendalikan, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang disingkirkan.
Blankonisme menatap teknologi dari jarak yang lebih dekat dan lebih personal. Ia tidak langsung berbicara soal struktur global, tetapi soal wajah manusia di balik layar. Blankonisme bertanya: apakah teknologi membuat manusia makin manusiawi, atau justru menjadikannya asing terhadap sesama? Ketika percakapan digantikan notifikasi, ketika empati digeser emoji, Blankonisme merasa perlu mengingatkan bahwa kemajuan tanpa nurani adalah jalan sunyi yang berbahaya. Bukan karena teknologi salah, melainkan karena manusia lupa menempatkan dirinya sebagai pusat, bukan korban.
Dalam gaya berpikir, EKSOS Theory cenderung analitis dan konseptual. Ia menuntut jarak, ketelitian, dan kemampuan melihat gambaran besar. Pendekatan ini sangat penting, terutama dalam riset, perumusan kebijakan, dan pembacaan konflik sosial yang kompleks. Tanpa EKSOS Theory, kita mudah terjebak pada penjelasan dangkal dan solusi tambal sulam. Namun jarak analitis ini juga memiliki risiko: manusia bisa terlihat terlalu abstrak, terlalu umum, terlalu jauh dari denyut kehidupan sehari-hari.
Blankonisme justru memilih kedekatan. Ia berbicara dengan bahasa narasi, metafora, dan simbol. Ia tidak selalu rapi secara konseptual, tetapi hangat secara makna. Blankonisme bekerja seperti cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut: tidak selalu sistematis, tetapi membekas. Dalam pendidikan, Blankonisme mengingatkan bahwa peserta didik bukan hanya objek transfer ilmu, melainkan manusia dengan latar, luka, dan harapan. Dalam sosial-budaya, Blankonisme mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu harus keras dan cepat; kadang ia tumbuh pelan, seperti padi di sawah yang setia menunggu musim.
Meski berbeda, Blankonisme dan EKSOS Theory bukan dua kutub yang saling meniadakan. Justru di pertemuan keduanya, kita menemukan kekuatan yang lebih utuh. EKSOS Theory memberi kita kacamata untuk melihat struktur yang sering tak terlihat. Blankonisme memberi kita hati untuk tidak lupa pada manusia yang hidup di dalam struktur itu. EKSOS Theory membantu kita memahami mengapa ketimpangan terjadi; Blankonisme membantu kita merasakan mengapa ketimpangan itu menyakitkan.
Dalam konteks zaman hari ini—zaman AI, percepatan informasi, dan krisis kemanusiaan yang halus—pertemuan ini menjadi semakin penting. Tanpa EKSOS Theory, kritik kita mudah menjadi sentimental dan tidak menyentuh akar masalah. Tanpa Blankonisme, kritik kita mudah menjadi dingin, elitis, dan jauh dari kehidupan nyata. EKSOS Theory adalah peta yang menunjukkan medan, Blankonisme adalah kompas yang menjaga arah. Peta tanpa kompas bisa menyesatkan, kompas tanpa peta bisa membuat kita berputar-putar.
Blankonisme dan EKSOS Theory sebagai dua cara merawat kesadaran. Yang satu mengajarkan kita membaca dunia dengan nalar, yang lain mengajarkan kita merawat dunia dengan rasa. Di tengah zaman yang gemar berlari, keduanya mengajak kita berhenti sejenak: melihat ke sekeliling, mendengar yang tak terdengar, dan mengingat kembali bahwa tujuan akhir dari setiap sistem, teori, dan teknologi adalah manusia itu sendiri. Jika manusia hilang dari pusat, maka seluruh kemajuan tak lebih dari perjalanan jauh tanpa rumah.

