Blakonisme : Pamèr Butuh Validasi
Judul lagu Akhir Zaman salah satu yang mempopulerkan, Niken Salindry Ft Awan Abimanyu menarik untuk dikupas. Satu bait relevan di era media sosial. Seperti apa lirik dan bagaimana kupasan versi blakonisme?
“Pamèr donya, pamèr bandha, pamèr rupa, pamèr mulya” bukan sekadar barisan kata, melainkan diagnosis zaman. Dalam blankonisme, pamèr adalah tanda awal manusia tercerabut dari batinnya sendiri. Ia merasa ada, hanya ketika dilihat. Ia merasa bernilai, hanya ketika disorot. Maka yang dipamerkan bukan kelebihan, melainkan kekosongan yang minta diisi pengakuan.
Blankon dipakai untuk menata isi kepala—menjaga agar pikiran tidak tumpah ke mana-mana. Pamèr justru kebalikannya: membuka semua tanpa saringan, membiarkan ego berkeliaran tanpa malu. Dunia, harta, rupa, dan kemuliaan dijajakan seperti etalase, padahal tidak semua yang terang layak dipertontonkan. Dalam laku Jawa, yang bernilai justru yang ketutup nanging keroso.
Zaman media sosial mempercepat penyakit ini. Sorot kamera menggantikan sorot batin. Like menggantikan laku. Yang sunyi dianggap tak berarti, yang gaduh dianggap berhasil. Akibatnya, manusia sibuk merawat citra, tapi lupa merawat rasa.
Blankonisme mengingatkan: pamèr bukan tanda kaya, melainkan tanda lapar—lapar pengakuan, lapar validasi, lapar makna. Jalan keluarnya bukan mematikan dunia, melainkan menata diri. Menutup kepala agar batin terbuka. Menarik diri sejenak dari sorot, agar laku kembali punya bobot.

