AI Berlari, Blankon Tertinggal
Maraknya penyalahgunaan Grok AI untuk manipulasi gambar pornografi membuat Pemerintah Indonesia memblokir sementara chatbot akal imitasi generatif platform X. Kebijakan ini menjadi alarm bahaya berkembangnya konten digital manipulatif atau deepfake kian mudah diproduksi menggunakan akal imitasi dan kerentanan publik menjadi korban (Sumber Kompas)
Dalam falsafah Blankonisme, blankon bukan sekadar penutup kepala. Ia adalah penjaga pikiran, pengikat nalar agar tidak liar, dan simbol bahwa kecerdasan selalu perlu tata krama. Ketika blankon dikenakan dengan benar, pikiran tahu ke mana harus melangkah dan kapan harus menunduk. Namun, di zaman AI bernama Grok, kita menyaksikan sebuah ironi: kecerdasan berlari kencang, tetapi blankonnya tertinggal.
Grok, sebagaimana AI lain, ibarat keris bermata dua. Di tangan yang arif, ia bisa menjadi alat penerang; di tangan yang ceroboh, ia menjelma senjata. Dalam kacamata Blankonisme, persoalan bukan semata pada teknologinya, melainkan pada niat yang tak diikat nilai. Ketika Grok disalahgunakan untuk merendahkan perempuan, yang sesungguhnya roboh bukan hanya etika digital, tetapi juga martabat kemanusiaan.
Perempuan, dalam kebudayaan Jawa yang dibaca Blankonisme, adalah sumur kehidupan: tempat air nilai mengalir, bukan objek tontonan. Namun AI yang kehilangan blankon memperlakukan sumur itu seperti etalase, dipelintir citranya, dipermainkan representasinya, lalu disebar tanpa rasa bersalah. Ini bukan sekadar pelanggaran teknologi, melainkan retaknya rasa—rasa isin, rasa hormat, rasa tanggung jawab.
Blankonisme mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: pinter kudu nganggo unggah-ungguh. Cerdas harus disertai tata krama. Grok, ketika digunakan tanpa kendali nilai, menjadi contoh kecerdasan yang telanjang—cepat, kuat, tetapi dingin. Ia bisa memproduksi kata, gambar, dan narasi, namun gagal membaca luka. Dalam situasi ini, perempuan sering menjadi pihak yang paling terdampak: diseret ke ruang digital yang tak ramah, dipaksa menanggung beban malu yang bukan kesalahannya.
Dalam metafora sawah, Grok adalah traktor modern. Ia mempercepat kerja, membelah tanah dengan mudah. Tetapi tanpa petani yang bijak, traktor bisa merusak pematang, menghancurkan tanaman yang mestinya dilindungi. Blankonisme mengingatkan: alat sehebat apa pun harus tunduk pada nilai, bukan sebaliknya. Ketika AI dibiarkan melaju tanpa pagar etika, yang terjadi adalah panen ketakutan, bukan kesejahteraan.
Penyalahgunaan Grok terhadap perempuan menunjukkan krisis yang lebih dalam: krisis eling lan waspada. Kita lupa bahwa teknologi bukan ruang hampa budaya. Ia membawa cara pandang penciptanya, penggunanya, dan masyarakat yang membiarkannya. Tanpa blankon, AI hanya tahu cara menjawab, bukan cara menghormati.
Maka Blankonisme tidak menolak Grok, sebagaimana ia tidak menolak kemajuan. Yang ditawarkan adalah memakaikan blankon pada AI: nilai, batas, dan keberpihakan pada martabat manusia—terutama mereka yang paling rentan. Sebab kecerdasan tanpa etika hanyalah angin kencang: menggerakkan banyak hal, tetapi juga mudah menyingkap yang seharusnya dijaga.
Di titik ini, pertanyaannya bukan seberapa pintar Grok, melainkan apakah kita cukup bijak untuk memakaikan blankon pada kecerdasan kita sendiri.

