5 Prinsip Literasi Digital Blankonisme
1. Eling Sadurunge Ngeklik
Sadar sebelum bertindak. Tidak semua judul perlu dibuka, tidak semua informasi layak dipercaya. Blankonisme mengajarkan berhenti sejenak: membaca utuh, memeriksa sumber, dan menimbang niat sebelum mengeklik, menyukai, atau membagikan.
2. Nalar Ngluwihi Algoritma
Algoritma boleh mengarahkan, tapi nalar tetap memimpin. Literasi digital versi blankonisme menempatkan akal sehat di atas tren. Apa yang viral belum tentu benar; apa yang ramai belum tentu bermutu.
3. Tepa Slira ing Ruang Digital
Empati dalam interaksi daring. Berkomentar tanpa merendahkan, berbeda pendapat tanpa menghina, dan hadir tanpa menghapus martabat orang lain. Ruang digital adalah ruang sosial—etikanya tetap hidup.
4. Cukup Tanpa Pamer
Blankonisme menolak budaya berlebih. Tidak semua pencapaian harus diumumkan, tidak semua proses harus dipertontonkan. Prinsip ini melatih kedewasaan digital: tahu batas antara berbagi dan mempertontonkan.
5. Jeda Iku Kuwasa
Diam bukan kalah. Tidak merespons bukan berarti tidak peduli. Dalam dunia yang menuntut reaksi cepat, blankonisme menegaskan bahwa jeda adalah bentuk kekuasaan diri—mengatur waktu, emosi, dan perhatian.

