Kacamata Budaya Dalam Pendidikan
Budaya adalah cara hidup, hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang diwariskan turun-temurun, mencakup pengetahuan, keyakinan, adat istiadat, bahasa, seni, serta kebiasaan yang dimiliki bersama oleh suatu kelompok masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan beradaptasi dengan lingkungan.
Oleh : Ledisiana Tonino, Pegiat Literasi
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri peserta didik secara aktif, membentuk kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk hidup mandiri dan berkontribusi di masyarakat, yang mencakup proses pewarisan pengetahuan, pengembangan karakter, dan penyesuaian diri secara berkelanjutan hingga mencapai kebahagiaan hidup.
Budaya atau culture sangat mempengaruhi pendidikan suatu negara. Dalam hal ini adalah kebiasaan, yang dimiliki oleh suatu negara sangat mempengaruhi pendidikan, baik pendidikan formal, maupun pendidikan nonformal. Pengaruh budaya terhadap pendidikan yang paling mencolok adalah kebiasaan. Kebiasaan yang dibangun sejak dini sangat mempengaruhi cara belajar kita. Baik itu belajar di bidang akademik (intelektual) dan non akademis (emotional intelligence) untuk menghadapi kehidupan sehari-hari.
Sebagian besar budaya atau kebiasaan orang Indonesia dalam belajar adalah mengejar nilai (angka) saat ujian ataupun ulangan, dan menganggap guru sebagai kebenaran tunggal. Tidak ada yang salah untuk belajar demi ujian karena itu adalah bentuk pertanggungjawaban kita sebagai mahasiswa, tetapi perlu diingat bahwa belajar demi ujian tidak disarankan untuk jangka panjang. Ini kami ambil sendiri, bagaimana pas semester satu dan dua dulu belajar untuk ujian dan untuk mengejar nilai, apakah belajar akuntansi sehingga setelah ujian ilmunya pun lupa.
Dalam buku emotional intelligence karya Daniel Goleman, Sanford Dorenbuchs seorang ahli sosiologi di Stanford University menemukan bahwa orang-orang Asia-Amerika menghabiskan waktu 40% lebih banyak untuk melakukan pekerjaan rumah daripada murid lainnya. Bila orang tua Amerika menerima kelemahan anak dan memperkuat kelebihannya, maka orang tua Asia mempunyai sikap yang berbeda.
Bila anda belum berhasil, anda harus belajar sampai larut malam dan apabila belum berhasil juga anda harus bangun dan belajar pagi-pagi. Mereka yakin siapapun berhasil di sekolah harus berusaha keras. Ini menunjukkan bahwa etos kerja bersifat tradisi yang telah mengakar telah diterjemahkan menjadi motivasi yang lebih tinggi, semangat dan ketekunan, merupakan suatu keunggulan emosional.
Kebiasaan kita yang belajar sampai larut malam ataupun sistem kebut semalam berdampak pada gangguan otak, dan gangguan mental, sehingga untuk hari selanjutnya kita susah konsentrasi, stres, cemas, dan susah fokus dan cepat lupa. Akibatnya, jangan heran apabila materi yang sudah kita terima dari kelas itu cepat lupa, karena salah satu kesalahannya adalah terletak pada kebiasaan kita dalam belajar.
Selain itu suasana hati yang buruk juga mempengaruhi nalar dan aktivitas produktif kita, jadi apabila hati tenang dan bahagia maka kita bisa produktif dan apabila hati cemas maka kita susah untuk bernalar dan mencerna apalagi melakukan aktivitas yang produktif.
Jadi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan belajar kita mari rubah kebiasaan buruk kita demi kualitas belajar dan kualitas pendidikan. Belajar bukan hanya untuk nilai dan menyelesaikan tugas/ujian tetapi memang sebagai kebutuhan hidup sebagaimana kita lakukan setiap hari, walaupun hanya 2 jam sehari yang penting konsisten, karena membaca satu buku tidak akan mengubah hidupmu tetapi membaca secara konsisten setiap hari akan mengubah hidupmu.

