2025/12/15

Dongeng Gajah Jujur dan Slametan Desa Bahagia


Di sebuah hutan yang hijau dan damai, hiduplah berbagai macam binatang. Ada Gajah Gading, si pemimpin yang kuat dan bijaksana. Ada Kancil Cerdik, yang senang membantu. Ada juga Beruang Besar, si penjaga lumbung makanan desa.


Oleh : ANISATUS SUAIBAH, Mahasiswa RPL AFIRMASI 2025 UNIKAMA

Setiap tahun, warga desa selalu mengadakan acara spesial bernama Slametan Desa. Ini adalah acara berkumpul, bersyukur, dan berbagi semua hasil panen mereka. Semua makanan dan barang yang terkumpul harus dibagi rata agar semua warga senang dan kenyang.

Tahun ini, Beruang Besar bertugas mengumpulkan semua madu manis dan buah-buahan lezat di lumbung untuk Slametan. Gajah Gading mengingatkan, "Beruang Besar, lumbung ini milik kita semua. Ingatlah, kita harus jujur dan tidak boleh mengambil yang bukan hak kita, meskipun hanya setetes madu. Karena kejujuran adalah kunci kebahagiaan bersama."

Namun, saat melihat lumbung penuh, Beruang Besar tergoda. "Wah, madu ini kelihatannya sangat manis! Ah, ambil sedikit saja, tidak ada yang tahu," bisiknya pada dirinya sendiri.

Beruang Besar mengambil dua cangkir besar madu dan menyembunyikannya di bawah kasurnya, padahal ia hanya butuh satu cangkir untuk bagiannya.

Saat hari Slametan tiba, semua warga berkumpul. Wajah mereka ceria, tapi ada yang aneh.

"Lho, kenapa madu di wadah besar ini sedikit sekali?" tanya Kancil Cerdik. "Biasanya kita bisa membuat tiga wadah, tapi ini hanya ada dua wadah kecil."

Warga desa mulai sedih. Banyak anak-anak tupai yang tidak kebagian madu untuk makanan mereka, padahal madu adalah bahan utama kue Slametan.

Gajah Gading bertanya pada Beruang Besar, "Beruang, apakah semua sudah kau masukkan ke lumbung?"

Beruang Besar berbohong, "Sudah, Gajah Gading. Sepertinya tahun ini panen madu kita memang sedikit."

Kancil Cerdik merasa ada yang tidak beres. Ia teringat kata-kata seorang tokoh bijak dari zaman dahulu yang sering diucapkan Gajah Gading:

"Korupsi itu ibarat penyakit. Ia akan merusak seluruh kebaikan, meskipun hanya dimulai dari yang kecil." (Ini adalah inti dari pendapat tokoh bangsa, seperti yang sering diucapkan Bapak Mohammad Hatta tentang pentingnya integritas).

Kancil pun mencari tahu. Ia mengintip ke rumah Beruang Besar dan melihat dua cangkir madu besar yang disembunyikan.

"Astaga! Ini dia madu yang hilang! Beruang Besar tidak jujur dan mengambil hak warga lain," pikir Kancil sedih.

Kancil membawa Gajah Gading ke rumah Beruang Besar. Beruang Besar sangat malu dan langsung menangis.

"Maafkan aku, Gajah Gading. Aku serakah. Aku hanya memikirkan diriku sendiri," sesal Beruang Besar.

Gajah Gading memeluknya. "Beruang, semua orang bisa salah. Yang terpenting adalah kita mau mengaku dan memperbaikinya. Mengambil yang bukan hak kita, meskipun kecil, itu namanya korupsi. Korupsi membuat orang lain susah dan merusak kebersamaan kita."

Gajah Gading menjelaskan, "Ingatlah pesan Bapak bangsa kita, Bapak Soekarno, yang mengatakan: 'Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pengorbanan pahlawannya, termasuk pahlawan kejujuran.'"

Gajah Gading melanjutkan, "Slametan itu mengajarkan kita rukun, bersyukur, dan berbagi adil. Kalau ada yang tidak jujur, Slametan tidak akan bahagia. Ayo, sekarang kita kembalikan madu ini!"

Beruang Besar dengan tulus mengembalikan dua cangkir madu yang ia ambil. Semua madu dicampur kembali, dan anak-anak tupai akhirnya bisa menikmati kue Slametan mereka.

Warga desa bergotong royong membersihkan lumbung bersama. Mereka belajar bahwa kejujuran dan keadilan harus dijaga mulai dari hal kecil, agar Slametan Desa yang melambangkan kebersamaan dan rasa syukur, bisa benar-benar membawa kebahagiaan untuk semua. Beruang Besar berjanji untuk selalu menjadi penjaga lumbung yang jujur dan bertanggung jawab.


Pesan moral untuk Anak-anak

Jujur itu hebat! Jangan ambil barang temanmu.

Adil itu keren! Berbagi yang sama rata.

Slametan mengajarkan kita untuk bersyukur dan hidup rukun

Postingan Terkait

Cari Blog Ini