2025/11/29

JALAN–JALAN SILATURAHMI (JJS)

 


Malang - Dalam semangat memperingati Hari Toleransi Internasional, Bidang Kesaksian Paroki SPMDGK Katedral Malang menghadirkan sebuah kegiatan yang tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga menyejukkan hati: Jalan–Jalan Silaturahmi (JJS). Acara ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman sambil menelusuri jejak sejarah tiga rumah ibadah heritage di Kota Malang.

Pagi itu, Sabtu, 29 November 2025, halaman parkir Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan sudah dipenuhi wajah-wajah antusias. Suasana akrab segera tercipta, seolah seluruh peserta bersepakat bahwa hari itu adalah hari untuk merajut cerita baru tentang persaudaraan. Tepat pukul 08.30 WIB, rombongan memulai perjalanan menuju titik pertama: Gereja HKY Kayutangan, sebuah bangunan bersejarah yang berdiri megah di tengah hiruk pikuk kota. Di sana, peserta mendapat gambaran singkat tentang akar sejarah gereja yang telah menjadi saksi perjalanan iman umat Katolik sejak masa kolonial.

Perjalanan berlanjut menuju titik kedua: Masjid Jami’ Malang, salah satu ikon religius yang juga menjadi pusat kegiatan umat Muslim sejak 1903. Para peserta disambut dengan hangat oleh pengurus masjid. Di dalam, mereka diajak mengenal sejarah perkembangan arsitektur masjid serta nilai-nilai kebersamaan yang menyatukan kehidupan masyarakat kota ini. Kehangatan sambutan tersebut mempertegas pesan utama JJS: bahwa persaudaraan sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana, seperti saling menyapa dan berbagi ruang.


Titik terakhir adalah Gereja GPIB Immanuel, bangunan tua yang masih mencatat jejak panjang sejarah kekristenan di Malang. Dengan ciri arsitektur kolonialnya yang kokoh, gereja ini menghadirkan suasana teduh yang mengundang peserta untuk merenung sejenak. Di sini, peserta diajak memahami bagaimana perjalanan Gereja Protestan ikut membentuk wajah keberagamaan kota ini.

Selama perjalanan, tawa, obrolan ringan, dan rasa ingin tahu saling menyatu. JJS bukan sekadar jalan-jalan; ia adalah bentuk kesaksian bahwa keberagaman bukan hal yang harus ditakuti, melainkan dirayakan. Setiap langkah menjadi cara kecil namun bermakna untuk menjaga harmoni, meneguhkan dialog, dan merawat sejarah yang kita warisi bersama.


Kegiatan ditutup pada pukul 12.00 WIB dengan foto bersama dan pesan peneguhan agar semangat toleransi terus bergema dalam keseharian umat. Bidang Kesaksian Paroki Katedral berharap JJS ini dapat menjadi agenda rutin yang terus menumbuhkan jembatan persaudaraan di Kota Malang.


Postingan Terkait

Cari Blog Ini