Dosen UNIKAMA ke TPA Supit Urang: Mengkaji Pengelolaan Sampah sebagai Tantangan dan Peluang Kota Malang
Malang – Sejumlah dosen dari Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA) melaksanakan kegiatan observasi lapangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang (10/7) sebagai bagian dari upaya memperkuat wawasan akademik mengenai tata kelola lingkungan dan pengelolaan sampah perkotaan.
Rombongan dosen disambut langsung oleh Kepala UPT TPA Supit Urang, Dr. Arif Dermawan, ST., MT yang didampingi oleh jajaran staf. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Arif memaparkan secara komprehensif sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di Kota Malang, mulai dari proses penerimaan sampah, pemilahan, pengolahan, hingga berbagai upaya untuk mengurangi dampak lingkungan.
Menurut Dr. Arif, persoalan sampah merupakan tantangan yang dihadapi hampir seluruh kota besar. Namun, apabila dikelola secara tepat melalui inovasi, kolaborasi, dan edukasi masyarakat, sampah dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Ia juga menjelaskan bahwa volume sampah yang dihasilkan masyarakat dapat menjadi salah satu indikator tingkat kesejahteraan. Meningkatnya aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat umumnya berbanding lurus dengan peningkatan produksi sampah. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menerapkan prinsip pengurangan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang (3R) agar pengelolaan sampah menjadi lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini memberikan observasi langsung bagi dosen UNIKAMA, Rina Wijayanti, S. Psi., M. Psi (Ketua), Dr. Yulius Rustan Effendi, S. Fil., MPd., Engelbertus Kukuh Widijatmoko, M. Pd dalam memahami praktik pengelolaan sampah modern serta membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kunjungan ini, diharapkan lahir berbagai gagasan inovatif yang mampu mendorong terciptanya budaya pengelolaan sampah yang lebih baik, sehingga sampah tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan lingkungan yang sehat, ekonomi sirkular yang produktif, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.



