FIP UNIKAMA : Harmoniskan Antara Intelektualitas dan Budaya
Malang - Dalam rangkaian prosesi Yudisium Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) (27/2), ada satu momen yang menyedot perhatian hadirin. Bukan hanya karena kemegahan acara atau suasana khidmat penyerahan SK yudisium, tetapi karena hadirnya sebuah pertunjukan tari yang sarat makna: Tari Grebeg Sabrang.
Tarian ini bukan sekadar pengisi acara seremonial. Grebeg Sabrang dikenal sebagai tarian yang merepresentasikan semangat, keberanian, dan karakter tegas. Gerakannya dinamis, ekspresif, dan penuh energi—menggambarkan daya juang serta determinasi. Dalam konteks yudisium, pesan simboliknya terasa begitu relevan: mahasiswa yang telah menyelesaikan studi bersiap “menyabrang” menuju fase kehidupan berikutnya dengan greget atau semangat yang menyala.
Yang membuat penampilan ini semakin istimewa adalah sosok penarinya. Tari Grebeg Sabrang dibawakan oleh Maulana, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2025. Kehadirannya di panggung bukan hanya sebagai penampil, tetapi sebagai representasi harmonis antara intelektualitas dan keluhuran budaya.
Maulana bukan sekadar mahasiswa yang bisa menari. Ia merupakan santri Pesantren Rakyat Sumberpucung, Kabupaten Malang. Latar belakangnya sebagai santri memberi dimensi tersendiri pada penampilannya. Ia memadukan kedalaman spiritual, kedisiplinan pesantren, dan kecintaan pada seni tradisi dalam satu gerak yang utuh. Di tengah citra akademik kampus dan tradisi kepesantrenan, ia membuktikan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan.
Balutan kostum merah dengan rias wajah tegas memperkuat karakter Grebeg Sabrang yang gagah dan berani. Setiap hentakan kaki, kibasan selendang, dan ekspresi wajah yang tajam memancarkan totalitas. Gerakannya mantap, terukur, dan penuh penghayatan, menunjukkan bahwa ia tidak hanya menari secara teknis, tetapi juga memahami ruh tarian tersebut.
Penampilan Tari Grebeg Sabrang oleh Maulana menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga merawat jiwa seni dan akar tradisi. Dari ruang pesantren hingga panggung yudisium, dari teks sastra hingga gerak tari, Maulana menunjukkan bahwa generasi muda mampu menjadi jembatan antara ilmu, budaya, dan spiritualitas.
Yudisium FIP Unikama tahun ini pun terasa lebih hidup. Grebeg Sabrang bukan sekadar pertunjukan pembuka, melainkan simbol semangat baru—semangat untuk melangkah ke depan dengan keberanian, integritas, dan kebanggaan akan jati diri.



